Timbul Tenggelam lagu anak Indonesia

Melodi Riang yang mudah diikuti, syair sederhana, mendidik, dan penuh dengan keceriaan. Kira-kira seperti itulah komposisi yang tepat untuk sebuah lagu anak. Akan tetapi, mengapa kini kita  masih membiarkan mereka teracuni lagu dan lirik orang dewasa?

Seberapa sering kita mendengarkan anak-anak kecil menyanyikan lagu-lagu dari Samson, Ungu, Mulan Jameela, dan penyanyi dewasa lainnya? Kira-kira apakah mereka mengerti makna dari lirik lagu yang mereka nyanyikan?

Sangat ironis ketika lagu-lagu macam Pelangi, ambilkan bulan, Hujan, atau lagu-lagu bertema nasionalisme seperti Tanah Airku, Indonesia Tumpah darahku, sudah jarang terdengar dan dibawakan oleh anak-anak. Saat ini, pilihan yang tersedia buat mereka adalah menyanyikan lagu orang dewasa. Ini jelas bukan salah anak-anak. Sejak generasi penyanyi cilik seperti Melisa, Sherina, atau Tasya tak mampu meneruskan tongkat estafet, boleh dibilang tak ada lagi yang bisa dijadikan panutan oleh anak-anak.

Minimnya produksi lagu anak saat ini tidak lepas dari industri musik yang ada di negara kita. Ketika industri musik memandang lagu anak bukan sebagai komoditas yang menguntungkan, maka ruang untuk lagu anak itu sendiri otomatis tertutup. Seperti yang diungkapkan Idhar Resmadi, Chief Editor sebuah majalah musik di Bandung, “ Industri musik di Indonesia hanya mencari potensi yang bisa menjual sementara lagu anak tidak dilirik sama sekali”.

Saat ini, pangsa pasar di industri musik didominasi oleh band dan penyanyi dewasa. Tak ayal, anak-anak lebih hafal lagu orang dewasa ketimbang lagu yang diperuntukkan bagi mereka sendiri. Dulu, label rekaman Sony BMG pernah membuat perusahaan Sony Wonder yang khusus memproduseri lagu anak-anak. Hanya saja karena tak ada ruang promosi, perusahaan  itu menghentikan produksinya.

Satu hal yang merisaukan lagi, menurut pemerhati media asal Fikom Unisba, Santi Indra Astuti, ialah industri musik hanya menganggap lagu anak sebagai bagian dari industri, bukan sebagai gerakan budaya. Padahal, lagu anak merupakan media tepat dalam mewariskan nilai-nilai budaya, mengajarkan norma sosial kepada anak-anak.

Pada dasarnya, lagu anak sendiri bermanfaat untuk mengembangkan suasana hati (afeksi) dari seorang anak. Selain itu, dapat pula mengembangkan kemampuan kognitif, seperti kata dalam lirik lagu dan imajinasi gerakan yang bisa menghadirkan suasana riang gembira. Ada juga dua fungsi utama bagi anak-anak. Pertama, fungsi dari ritme lagu yang mengajarkan gerakan dan konsentrasi, sehingga merangsang stimulan positif pada otak anak. Ketiga, menambah perbendaharaan kata  bagi anak-anak.

Akan tetapi yang harus diingat adalah pentingnya pemilihan kata dalam lirik lagu anak. Ada baiknya kata-kata yang dipilih tidaklah “berat”, mudah diingat serta tema yang berkaitan erat dengan kehidupan mereka, seperti mengenai sekolah, orangtua, belajar, hewan, alam, dan persahabatan. Jangan memaksakan untuk memasukkan tema cinta orang dewasa atau perselingkuhan yanng tidak sesuai dengan perkembangan jiwa mereka.

Lirik lagu yang tidak sesuai akan sangat berbahaya terutama untuk perkembangan kognisi anak. Bahasa yang tidak sesuai akan mereka gunakan tanpa mengetahui apa artinya. Lebih berbahaya lagi, ketika anak menggunakan kata tersebut untuk berkomunikasi. Mereka menggunakan istilah yang sebenarnya tidak mereka pahami, dan secara psikologis itu sangat tidak sejalan dengan perkembangan jiwa seorang anak. “ yang paling mengkhawatirkan adalah akan terjadi penyempitan dunia anak-anak menjadi miniatur dunia orang dewasa. Anak-anak pun akan tumbuh dewasa sebelum waktunya,” ucap Santi, yang juga pegiat Bandung School of Communication Studies.

Lebih jauh lagi Santi menyatakan bahwa saat ini ada pergeseran moral yang terjadi di masyarakat, seperti jika mendengar lirik lagu yang berbunyi “…selingkuh itu indah,” atau “ ..jangan salahkan aku selingkuh”. Jika dulu kita mengetahui “selingkuh” merupakan tindakan yang keluar dari norma-norma yang ada di masyarakat, baik itu norma agama, maupun norma kesusilaan, saat ini selingkuh sendiri dijadikan suatu pembenaran. Nyata sekali bahwa sebuah lagu bisa membawa pengaruh yang tidak kecil terhadap masyarakat. Lagu dapat mengubah pandangan seseorang terhadap suatu hal.

Secara Musikal, lagu anak juga harus diperhatikan secara seksama. Kapasitas normal suara anak-anak hanya 1 oktaf lebih 2 nada, sedangkan lagu dewasa lebih dari 2 oktaf. Jika mereka dipaksa menyanyikan lagu dewasa, akibat yang timbul adalah penyakit kaku suara (bromer) yang membuat vokal anak terganggu, sehingga tidak mampu mencapai nada dengan bagus. Ada juga penyakit “cekung” di mana akan membuat pengucapan intonasi menjadi tidak jelas.

Industri Musik dan Media Massa

Jika dirunut lagi, minimnya lagu-lagu anak yang beredar tidak lepas dari peran media massa, khususnya televisi yang telah menjadi konsumsi wajib kebanyakan masyarakat kita. Saat ini, tidak tersedia ruang untuk video klip penyanyi anak. Televisi didominasi pemutaran video klip penyanyi atau band dewasa, karena lebih menjual. Akibatnya, tempat promosi rekaman lagu-lagu anak pun semakin terpinggirkan, di samping tak adanya pangsa pasar di industri musik. Walhasil, gabungan kekuatan antara kapitalisasi industri musik dan kondisi pertelevisian, berhasil menetup ruang lagu anak yang semakin langka tersebut.

Mungkin akhir-akhir ini kita sering disuguhkan semacam program acara pencarian idola penyanyi cilik di beberapa stasiun televisi. Sepintas acara tersebut membangkitkan optimisme kita terhadap musik anak. Akan tetapi, ketika disimak lebih seksama, ada sesuatu dalam acara tersebut yang bisa membuat kita tertunduk lesu. Ternyata, materi lagu yang dibawakan oleh anak-anak calon idola tersebut adalah lagu orang dewasa. Kenapa mereka tidak diwajibkan menyanyikan lagu yang sesuai usia mereka ?

Kondisi pertelevisian yang mengkhawatirkan ini juga disoroti oleh Santi Indra Astuti. Menurutnya, apa yang anak-anak tonton di televisi sebagian besar adalah infotainment, sinetron, video klip band dewasa, berita kriminal, dan acara lain yang memang bukan porsi mereka. Yang terjadi selanjutnya, muncul suatu hubungan antara yang ditonton dengan apa yang diterima oleh anak. Dalam ilmu komunikasi, ada yang disebut Social Learning Theory di mana anak-anak belajar norma-norma sosial dari televisi—bukan saja nilai-nilai komersil. Mari kita melongok survei yang diadakan oleh UNICEF tahun 2007 yang menyebutkan bahwa rata-rata anak Indonesia menonton TV selama 4-5 jam sehari. Jelas intensitas informasi yang tidak sesuai yang masuk ke dalam otak pun semakin tinggi.

Untuk mengakhiri keadaan mandeknya lagu anak, sebaiknya muncul produser yang berani berspekulasi untik merekam lagu anak. Kalau album itu sukses, kemungkinan besar produser lain mengikuti untuk memproduksi lagu anak. Penyediaan terhadap media promosi juga bisa menjalankan kembali roda industri lagu anak. Televisi sendiri setidaknya bisa memberi porsi untuk program musik anak. Jika acaranya bagus, tentu saja banyak orang yang tertarik untuk menonton, dan apresiasi terhadap musik anak pun akan meningkat. Jika ada pilihan yang tersedia, menarik dan sesuai bagi anak, tentunya kita akan bisa merasakan kembali keceriaan, keriangan, dan kepolosan mereka tanpa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s