Jazz Break, dari masa ke masa

kalian para penggemar Jazz tentu tidak asing dengan nama Jazz Break. Begitu juga mungkin dengan paman atau ayah kalian di masa mudanya sangat akrab dengan acara ini. Hingga adik kalian saat ini pun mungkin pernah datang dan menyaksikan musisi-musisi baru yang bermunculan. Ya! Jazz Break memang mempunyai sejarah cukup panjang yang melintasi beberapa generasi serta sangat berpengaruh bagi perkembangan jazz tanah air. Banyak musisi-musisi piawai lahir dan tumbuh bersama Jazz Break….

Oleh: Umbara Purwacaraka

The Beginning: 1983-1989

Berawal dari sekelompok remaja yang tergabung dalam komunitas penggemar jazz yang rutin berkumpul di Bumi Sangkuriang yaitu Hari Pochang, Husni Alketeri serta didukung oleh pengurus Bumi Sangkuriang waktu itu, Dang Tanzil dan beberapa aktivis lainnya seperti Yongky Nusantara (Crescendo), Freddy Prandi, dan Sudibyo – seorang dosen arsitektur yang juga banyak meneliti mengenai perkembangan Jazz di Indonesia. Atas kerjasama mereka semua lah tercipta Jazz Break di tahun 1983 yang namanya terinspirasi karena pada waktu sedang ramai-ramainya orang menggunakan radio breaker (orari) dan secara fonetik pun kata Jazz Break enak untuk diucapkan. Kala itu Jazz Break rutin diadakan pada hari minggu malam dan bisa dibilang Jazz Break merupakan acara musik jazz pertama di kota Bandung. Hampir semua musisi jazz di tanah air pernah bermain di acara ini. “ Kalau musisi Jazz belum main disini rasanya kurang afdol”, begitulah tutur salah satu penggagas Jazz Break, Hari Pochang.

Tim pengelola dalam Jazz Break sendiri bersifat informal, tidak terorganisir. “Semuanya dilakukan dengan semangat bersama. Kami seperti bergerilya, mengalir begitu saja”, jelas Hari Pochang. Tetapi dengan semangat itulah tumbuh musisi-musisi masa depan Indonesia, sebut saja grup musik Krakatau yang memang terbentuk dari komunitas ini, lalu Elfa Secioria yang rutin tampil, Tri Utami, Yuke Semeru, Purwacaraka, Indra Lesmana, Karimata, Kahitna serta Baron yang mengusung repertoar progesif ala Ruturn To Forever. Tak ketinggalan pula musisi-musisi senior yang  rajin bersilaturahmi seperti Bubi Chen, Embong Rahardjo, Crescendo, dan Maryono. Pengelola Jazz Break juga sempat mengundang penyanyi Jazz asal Amerika Serikat, Debra Brown.  Upaya mendatangkan Debra Brown itu  merupakan gagasan dari pembetot bass, Pra Budidharma dan Harry Roesli yang juga membantu dalam pengumpulan dana untuk penyelenggaraannya. Saat itu Debra Brown diiringi di antaranya oleh pianis masa depan kota Bandung pada saat itu; Bambang Nugroho.

“ Kalau musisi Jazz belum main disini rasanya kurang afdol”

Berkat Jazz Break pula, di pertengahan dekade 80’an suasana kota Bandung hidup dengan berbagai event-event Jazz. Salah satunya acara yang muncul adalah Jazz Spot yang mengambil tempat di Hotel Savoy Homann. Ketika itu Bambang Nugroho mengajak musisi-musisi yang berasal dari komunitas Bumi Sangkuriang serta memboyong penyanyi seperti Tula Samdjoen yang terkenal dengan teknik scatting-nya yang ciamik.  Tula Samdjoen juga merupakan penyanyi yang telah malang melintang bersama musisi jazz senior seperti Johny Tangkau, Benny Korda dkk, Oele Pattiselano, Freddy Prandi, Eddy Karamoy serta Adang Bendo. Kampus ITB pun di tahun-tahun itu bisa dibilang rutin mengadakan acara-acara Jazz. Begitu pula komunitas di Jl. Aceh yang dipelopori oleh Elfa Secioria, Andre Hehanusa, Ruth Sahanaya, dan Trie Utami merupakan musisi-musisi yang menghidupkan suasana jazz di kota Bandung.

Di akhir tahun 1989 Jazz Break mengalami masa-masa surut. Saat itu kesibukan  para pengelolanya membuat Jazz Break menjadi vakum.  Hari Pochang sebagai salah satu pengelola saat itu dihampiri dengan kesibukan kerja yang menggila sehingga tak sanggup lagi menangani acara tersebut. Struktur para pengelolanya yang memang tidak terorganisir serta cara kerja  yang lebih mengarah ke personal approach dan bergerilya, membuat jaringan dan hubungan dengan para musisinya pun terputus bersamaan hilangnya para pengurus Jazz Break. “Pentolan-pentolan Jazz Break akhirnya membuat acara sendiri di Laga Pub dengan memunculkan berbagai macam jenis musik”, tutur Hari Pochang mengenai keadaan paska surutnya Jazz Break. Lalu sempat muncul sebuah acara lagi di Bumi Sangkuriang dengan mengusung nama Jazz Break yang digagas oleh Erlan Efendi dan Wachdach. Sempat terjadi kesimpangsiuran karena konsep acaranya lebih berssifat family gathering dengan memainkan musik-musik disco untuk berdansa, bukan format band beraliran jazz. Acara itu pun tidak berlangsung lama.

Jazz Break revival: 2008-2010
Inilah periode awal kembalinya Jazz Break. Dengan mempertimbangkan kata Jazz Break“ yang sempat digunakan juga di event-event jazz lain di luar Bumi Sangkuriang oleh event organizer lain, maka “Jazz Break“ tahun 2008  dinamai menjadi  “Jazz Break Revival“ sekaligus mempertegas kebangkitan kembali Jazz Break yang identik bertempat di Bumi Sangkuriang. Pertemuan Perdana Jazz Break Revival tercatat pada hari Rabu 9 April 2008. Menampilkan 3 (tiga) kelompok jazz dari generasi terkini; Bop Vivant, Sekapur Sirih, dan Yonathan Godjali Quartet. Penggagasnya kali ini adalah Dwi Cahya Yuniman bersama Klab Jazz-nya. Klab Jazz melakukan kerjasama dengan pihak manajemen Bumi Sangkuriang sehingga Jazz Break Revival itulah yang mereka kelola. Ada beberapa gagasan yang cukup substansial dari keberadaan Klab Jazz bersama Jazz Break Revival. Misi yang diusung adalah memasyarakatkan musik jazz terutama masyarakat di kota Bandung serta mendorong terciptanya kelompok-kelompok musik Jazz baru sebagai regenerasi musisi jazz sebelumnya.

Konsep yang ditawarkan Jazz Break Revival sendiri bisa dibilang sangat segar. Tradisi di dalam Jazz Break Revival mengajarkan bahwa semua musisi baik yang telah senior atapun yang baru muncul dipersilahkan untuk bermain bersama, menciptakan dialog dengan kesetaraan, keterbukaan dan tanpa “kasta”. Baik musisi senior maupun junior akan sama-sama mendapat pengalaman yang baru serta pelajaran-pelajaran yang baru.  Banyak musisi-musisi jazz yang segar lahir dalam tradisi ini dan sekarang mulai menunjukkan taringnya antara lain Sony Akbar Quartet, G/E/T, Buy Free Get 4 serta gitaris masa depan Bandung, Tesla Manaf Effendi.

Sangat disayangkan karena ada suatu masalah di dalam hal kerjasama, Jazz Break Revival akhirnya menutup buku dan tidak melanjutkan pertemuannya  lagi pada bulan April 2010. berakhirlah masa-masa Jazz Break Revival.

The Comeback: 2010 – now

Tanggal 2 juni 2010 menjadi saksi reinkarnasi yang ketiga dari acara Jazz Break. Kali ini Bumi Sangkuriang Jazz Community bersama dengan Hotspot Art mengelola dengan mengembalikan nama acara menjadi seperti awal terbentuk yaitu Jazz Break. Sang ketua pelaksana, Teddy Abe berkata, “Nama Jazz Break kami angkat lagi untuk merasakan kembali nostalgia yang pernah singgah, dimana orang merasa nyaman dan enjoy untuk datang ke acara ini”. Konsep yang tersaji pada gelaran “pertama” Jazz Break sedikit berbeda. Line Up artis yang tampil tidak semua beraliran jazz yang murni, tetapi masih ada yang mengusung pop berbalut jazzy. “konsepnya saya bikin hiburan sekaligus apresiasi. Makanya line up saya bikin entertaining, tidak semuanya bermain jazz yang berat”, ucap Teddy Abe yang juga merupakan pemain bass.

Teddy Abe berharap, talent-talent di kota Bandung tidak kehilangan tempat dan peminat musik jazz pula tidak akan surut dan padam. Dia juga berharap di episode berikutnya dari Jazz Break bisa mengundang musisi-musisi yang telah malang melintang di dunia Jazz. “ Mudah-mudahan ada pihak yang mau menyeponsori, sehingga acara ini bisa menjadi besar bahkan berskala Internasional.”, imbuhnya.

Jika kita rangkum perjalanan Jazz Break dari awal hingga saat ini, tak bisa dipungkiri lagi keberadaan komunitas penggiat Jazz ini seakan memberikan efek domino bagi perkembangan Jazz di tanah air. Tunas-tunas segar selalu muncul dari kota Bandung seakan kreativitas dan semangat untuk bermusik anak-anak muda di kota ini tidak pernah padam. Semangat-semangat itu mereka wujudkan dengan memunculkan komunitas-komunitas dengan segala bentuk gagasan dan kemasan yang berbeda-beda. Sangat layak untuk kita akui bersama bahwa Bandung memang pantas dijadikan barometer segala jenis musik di tanah air ini.

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s