Identitas Kesundaan Seorang Elang Rahayu

Kebiasaan yang telah turun-temurun di dalam sebuah keluarga secara sadar ataupun tidak sadar akan mengendap perlahan-lahan dan mewujud menjadi identitas diri para anggota keluarganya. Hal inilah yang terpatri dalam diri seorang Elang Rahayu. Berasal dari keluarga dengan akar tradisi seni kesundaan yang  kuat, dia berusaha mengepakkan sayapnya sejauh dan sebebas mungkin tanpa pernah lupa darimana dia berasal…

Siang itu saya membuat janji untuk bertemu dengan seorang musisi yang sosoknya cukup dikenal di kampus seni musik UPI Bandung. Dia adalah Elang Rahayu, seorang pemain instrumen tiup dengan koleksi alat tiup yang cukup beragam dan juga tergabung dengan grup musik Kyai Fatahillah serta grup Baraya.  Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus seni musik, terasa suasana sangat “nyeni” dengan berbagai lukisan di tembok, dekorasi-dekorasi yang nyleneh, poster-poster unik dan keganjilan yang ditampilkan ala seniman. Saya sempat kebingungan mencari sosok Elang karena dia tidak menyebutkan dimana posisinya secara mendetil, tapi begitu mendengar bunyi Tarumpet menyeruak dengan instingtif saya mengikuti sumber bunyi tersebut dan memang benar yang memainkan alat musik tersebut tidak lain adalah Elang Rahayu.

The Tradition

Sosoknya menggambarkan karakter orang sunda pada umumnya, begitu hangat, ramah, dan gemar bersenda gurau. Ia lantas mengajak saya ke tempat kost-nya di daerah Ledeng agar percakapan bisa berlangsung lebih tenang dan nyaman. Pribadinya yang bersahaja ternyata semakin membuat obrolan saya dengannya begitu cair dan santai. Pria kelahiran 13 Maret 1982 ini memang memiliki latar belakang keluarga di dunia tradisi kesenian sunda yang begitu mengakar. Kakek buyutnya adalah pemain Tarumpet, neneknya adalah seorang sinden, sedangkan ayahnya adalah seorang guru kesenian sunda. Darah itulah yang menggiringnya tumbuh menjadi musisi tradisional hingga sekarang. Awal mula ketertarikannya dengan alat musik tiup adalah ketika ia mempelajari recorder di kelas 4 SD karena alatnya sederhana, harganya terjangkau dan mudah didapat. Lantas di kelas 5 SD perkenalannya dengan gitar, angklung dan terutama suling membuat dirinya semakin penasaran mengapa dengan alat musik tersebut dia bisa megungkapkan perasaannya tanpa harus berbicara kepada orang cukup memainkannya saja.

Lingkungan keluarga Elang sangat mendukung apapun kegiatan kesenian yang dilakukan anak-anaknya. Bahkan tempat kediaman keluarga Elang sendiri menjadi semacam lingkung seni yang dikelola ayahnya dan fokus terhadap permainan degung. Sedangkan sang kakek, Ating Sudarman merupakan sesepuh perguruan pencak silat dimana setiap sore sehabis sholat ashar rutin mengadakan latihan pencak silat dengan diiringi musik yang khas; dua buah kendang, suling kawih dan tarompet.Rutinitas- rutinitas seperti itulah yang secara sengaja ataupun tidak sengaja membentuk kepribadian Elang untuk mencintai kesenian Sunda.

“Rutinitas membentuk kepribadian Elang mencintai kesenian Sunda”

Ayahnya kembali mendukung dan mengarahkan Elang ketika dirinya meneruskan pendidikan ke SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) di daerah Margacinta, Bandung. Berbagai alat musik tradisional dia pelajari dari yang sederhana sampai yang rumit. Di sekolah itulah kecintaannya terhadap musik sunda semakin menancap dan tak tergoyahkan lagi karena memang di SMKI – sekarang menjadi SMKN 10-  merupakan pusat pendidikan kesenian sunda yang culup terkenal di Bandung.

Semua ilmu yang mengendap di dalam diri Elang kemudian dibawanya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 2001 jurusan Seni musik di Universitas Pendidikan Indonesia adalah yang menjadi tujuannya. Dia membawa semua bekal berupa potensi yang siap digali dan patern-patern dasar gaya bermusik yang sudah ada sebelum mengembangkan dan mendapat teknik-teknik baru atau pemikiran-pemikiran baru. Ketika awal masuk di kampus itu, Elang bercerita bahwa pemikirannya tertutup terhadap sesuatu yang baru. Dia bersikap fanatik sekali terhadap kesenian sunda dan bersikap sinis terhadap kesenian modern (barat). Baginya untuk apa mempelajari kesenian yang bukan milik bangsa sendiri, lebih baik kembangkan yang dekat dengan kebudayaan bangsa ini.

The Exploration

Pada pertengahan tahun 2002 yaitu ketika memasuki semester ketiga perkuliahan, pikirannya mulai terbuka. Hal ini dikarenakan bertemunya Elang dengan orang-orang yang merubah fanatismenya terhadap salah satu musik saja. Orang tersebut tak lain gurunya sendiri, Iwan Gunawan yang dikenal sebagai komposer dan pemimpin grup ensembel Kyai Fatahillah serta teman-teman dari angkatan yang lebih dahulu masuk. Iwan gunawan mengatakan kepada Elang bahwa untuk menjadi musisi yang baik, pikiran haruslah terbuka. Jika ingin menjadi seorang ahli maka seorang musisi harus dikelilingi dengan berbagai macam keilmuan. Iwan terus mengimbuhkan pandangannya bahwa musik juga harus bisa diapresiasi dan untuk mengapresiasi musik maka seorang musisi harus mendengar semua jenis musik tanpa terkecuali. Dengan begitu wawasan seorang musisi akan bertambah dan pada akhirnya akan tahu bagaimana menghargai sebuah musik. Dari pandangan itulah pikiran Elang mulai terbuka. Ia lalu mulai mempelajari alat musik tiup seperti flute, oboe, saksofon, klarinet dan berbagai alat musik barat lainnya. Setelah mendalami alat-alat musik tersebut ternyata banyak sekali teknik yang Elang pelajari dan berguna untuk dimainkan kedalam karya (musik) baru. Eksplorasi pun tidak berhenti di situ saja, Elang banyak menemukan bagaimana ternyata banyak kesamaan teknik antara instrumen barat dan instrumen timur. Teknik Legatto atau stacatto yang terdapat pada klarinet ternyata terdapat juga pada suling sunda. Terkadang juga Elang mengeksplorasi dengan memasukkan teknik instrumen barat kedalam suling sunda atau sebaliknya memasukkan teknik suling sunda ke dalam instrumen tiup barat. Satu hal perbedaan diantara keduanya adalah tidak ada long note dalam alat tiup tradisional sunda, nada-nada sunda selalu meliuk-liuk.

“untuk menjadi musisi yang baik, pikiran haruslah terbuka”

Pelajaran pertama mengenai improvisasi didapatnya juga dari Iwan Gunawan. Kala itu dirinya disuruh bermain suling mengiringi drama tari. Awalnya Elang kesulitan untuk membaca gerak sang penari, tetapi lambat laun rasa improvisasi itu tumbuh sendiri dengan belajar memaknai tiap gerakan dengan nada yang keluar. “ Kuncinya adalah bermain dengan penuh kesadaran. Jangan pula hanya menggunakan otak, tapi seimbangkan dengan menggunakan perasaan”, tukas pria yang pernah menjabat sebagai ketua ensembel Kyai Fatahillah tahun 2007-2008.   Ensemble Kyai Fatahillah adalah kelompok musik yang konsisten dalam upaya mengembangkan konsep musik-musik baru yang berakar dari musik tradisi sunda. Kelompok musik ini telah berhasil memainkan berbagai karya dari beberapa komponis, mulai dari karya tradisi sunda sampai kontemporer. Para pemain yang terjaring pada kelompok ini adalah para musisi muda yang berbakat dan memiliki visi ke depan dalam upaya memperluas wacana musik di Indonesia.Berbagai jenis musik yang sering dimainkan oleh kelompok ini adalah musik gamelan tradisi sunda, gamelan kontemporer, musik perkusi dan musik electro acoustic. Melalui Ensemble kyai Fatahillah jugalah pengalaman dan naluri bermusik seorang Elang Rahayu terlatih. Festival-festival akbar pernah didatanginya bersama grup Kyai Fatahillah seperti “Space and Shadow” Berlin Jerman HKW 2005, “Solo International Ethnic Music” 2008, “Sound of Earth”- Konser Musik Jazz di Sabuga Bandung 2007, dan yang terakhir dan masih hangat adalah festival Cracking Bamboo 2010 di Vietnam.

Jika membeberkan pengalamannya dalam festival Cracking Bamboo banyak sekali pencerahan yang membuka cakrawala bermusik seorang Elang Rahayu. Workshop Cracking Bamboo di Hanoi, Vietnam memberikan kesan yang tak terlupakan atas kerjasama dengan puluhan seniman dan musisi dari seluruh penjuru dunia. Mereka digabungkan lalu dibentuk kelompok baru dan diberi kesempatan untuk membuat komposisi karya berdasarkan sebuah asas keterbukaan, dialog yang saling mengerti dan sekali lagi diwujudkan dalam ranah World Jazz. Komposisinya sarat akan improvisasi tetapi tidak saling mengalahkan melainkan membangun kesepahaman dalam ritme, harmoni maupun melodi. “Improvisasi bukan unjuk gigi, tetapi bagaimana kita mengkreasikan dan mengkomposisikan kembali sebuah karya. Disana ada kesepakatan secara spontanitas, saling mengerti dan bukan saling mengalahkan”, tutur Elang yang juga gemar bermain tenis meja.

“Improvisasi bukan unjuk gigi, tetapi bagaimana kita mengkreasikan dan mengkomposisikan kembali sebuah karya”

Satu lagi yang patut diacungi jempol adalah karyanya bersama grup band Baraya yang telah merilis satu buah album berjudul The Day. Di grup ini Elang mengisi permainan suling, toleat dan bangsing. Kesembilan karya dalam album The Day ini adalah hasil perkawinan musik analog dan digital. Secara analog musik tradisional sunda dihadirkan dengan begitu fasih dan sakral kemudian musik digital disuguhkan melalui ritme-ritme modern hasil racikan sampling digital dan sistem komputerisasi. Perkawinan keduanya tidak berlebihan, detil-detil melodi dan harmoni dipikirkan dengan seksama sehingga tercipta kadar yang tepat di tiap bagian komposisinya. Nuansa ethniclounge kental sekali terasa dalam balutan wilayah World Jazz.

Sebagai seorang lulusan pendidikan musik dan calon guru, Elang masih merasa optimis dengan minat para generasi muda terhadap kesenian tradisional sunda. Baginya dengan masih berdirinya SMKI, STSI atau sekolah musik lainnya potensi-potensi baru di seni sunda pasti akan tetap bermunculan walaupun jumlahnya memang tidak banyak. Menurutnya kesenian tradisional tidak akan ditinggalkan, akan selalu ada orang yang mengembangkan dan melestarikannya. Yang perlu semua orang ketahui adalah dengan alat musik (tradisional) yang sederhana itu bisa digali berbagai macam ragam bunyi. Kuncinya jangan pernah berhenti mengeksplorasi.
Biodata :

Nama                                          : Elang Rahayu, S.Pd

Tempat/Tgl Lahir                    : 13 Maret 1982

Alamat                                       : Jl. Sersan Bajuri Dalam No. 07 RT/RW 04/04 Kel. Isola                                                        Bandung

Riwayat Pendidikan Formal   : SDN Malabar I lulus tahun1994

SLTPN 2 Pangalengan  lulus tahun 1997

SMKN 10 / SMKI Bandung lulus tahun 2000

Seni Musik UPI lulus tahun  2009

Koleksi Alat Tiup Elang Rahayu:

Ken (dengan corong kuningan di ujungnya), Saw(warna coklat terbuat dari Bambu), dan Tiw( 4 suling berwarna-warni) adalah alat tiup tradisional yang berasal dari Vietnam. Ken mempunyai karakter suara seperti tarompet sunda, Saw dengan karakter suara yang nge-bass, dan tiw dengan karakter suara yang lembut dan nyaring.

Toleat merupakan salah satu jenis musik tiup (Aerophone) khas daerah Subang, toleat biasa di mainkan oleh penggembala di daerah pantura sambil menunggu gembalaannya. Awalnya toleat dibuat dari bahan jerami karena perkembangan jaman dan keawetan bahannya maka sekarang toleat di buat menggunakan bahan bambu tamiang, toleat mempunyai nada dasar salendro dan mempunyai delapan lubang nada serta mempunyai suara yang unik menyerupai saxsophone, bentuknya mirip dengan suling (seruling).

Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong. Saluang distel dengan diberi beberapa lubang biasanya ada 4 lubang. Dengan begitu saluang dapat menghasilkan frekuensi nada-nada diatonis. Ini juga salah satu ciri khas instrumen ini. Tidak sembarangan orang yang bisa meniup Saluang ini, membutuhkan latihan khusus agar bisa mengeluarkan suara khas Saluang, yang bernuansa kelam, misterius dan ghotic.

bangsing/suling miring dilengkapi oleh alat musik lainnya seperti gong kendi, kecrek sendok, gendang terbuat dari tong sabun diberi karet untuk mengiringi lagu khas Cirebonan. Tarling Klasik adalah kesenian khas daerah Cirebon yang lahir diperkirakan tahun 1934 dan hingga saat ini masih populer digemari baik oleh masyarakat regional maupun nasional.

Suling degung dengan empat lubang dan lima lubang. Sejarahnya degung lahir dari lingkungan pendopo Kabupaten Cianjur pada sekitar abad XIX. Pada awalnya kesenian ini hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu saja hanya jika ada perayaan di pendopo saja. Atas jasa Bupati Kabupaten Bandung, RAA Wiranata Kusumah pada tahun 1921 kesenian Sunda banyak yang direkam dalam piringan hitam ODEON (termasuk Degung). Seni degung pada mulanya hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja, bentuk sajiannya hanya instrumentalia saja, tanpa dibarengi sekar.

Tarompet penca

Pencak Silat adalah olah raga seni beladiri, yang merupakan ciri khas kebudayaan etnis sunda. permainan seni pencak silat ini biasanya diperagakan dengan diiringi musik gendang, terompet, dan lain sebagainya. Suara tapompet ini begit nyaring dan bernuansa magis
Tarompet subang

Tarompet subang dimainkan di dalam gembyung. Gembyung adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan. Gembyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat seperti pesta khitanan dan perkawinan atau acara hiburan lainnya dan juga digunakan untuk upacara adat seperti halnya Ruatan bumi, minta hujan dan mapag dewi sri. Dalam perkembangannya saat ini, gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s