Gilles Si Seniman Dawai

Di sore yang sejuk dan mendung itu saya melajukan kendaraan ke daerah Lembang tempat kediaman Gilles E.D. Nève, seorang Luthier atau yang biasa disebut juga sebagai pengrajin instrumen berdawai.

Tulisan dan foto Oleh: Umbara Purwacaraka

Sosoknya yang santai dan bersahaja menyambut saya dengan hangat di rumah sekaligus “bengkel”nya yang tenang dan asri di kawasan Komplek Graha Puspa. Saat ini Gilles memiliki sebuah perusahaan bernama AGL (Asia Guitar Labs) yang fokus dalam pembuatan dan reparasi instrumen berdawai. AGL merupakan salah satu Luthier Indonesia yang memliki reputasi baik dengan kualitas premium atas hasil pekerjaannya dan bisa disejajarkan dengan dengan kualitas gitar impor lainnya.

Profesinya  sebagai pengrajin dawai dilatar belakangi ketika usianya  masih sangat muda. Ketika kakaknya membeli dan membawa sebuah gitar pulang ke rumah, Gilles merasakan ketertarikan dan rasa penasaran yang sangat tinggi. Namun karena dia seorang kidal maka dia kesulitan untuk belajar memainkan gitar yang”normal”. kemudian, bersama sang ayah Gilles mengelilingi kota Bandung untuk mencari gitar kiri ke seluruh toko musik pada waktu itu tapi tak kunjung jua menemukan apa yang diinginkannya. Untuk sementara Gilles memutuskan belajar memainkan gitar dengan senar terbalik hingga sekitar tahun 1980 keinginannya untuk memiliki gitar kiri sendiri semakin kuat dan tak terbendung lagi.  Dengan bekal tekadnya itu didatanginya lah  seorang pengrajin gitar bernama Oen Peng Hoek di daerah Kopo. Dengan keinginan yang kuat juga, Gilles merayu Oen Peng Hoek untuk mengajarinya cara membuat gitar. Berkat ketekunan dan kedisiplinan dalam belajar, gitar pertama buatan Gilles diselesaikan dalam waktu 10 minggu dengan peralatan yang sederhana dan seadanya.

“ I Want To Provide For All Guitars Enthusiasts “

The Story Begin

Latar pendidikan Gilles sebenarnya adalah arsitektur. Lulusan kampus Atenas(red: Itenas saat ini) adalah seorang arsitek handal yang telah memiliki perusahaan kontraktor sendiri. Namun perusahaan yang dirintisnya sejak tahun 1986 itu mendapat imbas krisis moneter dan akhirnya mengalami kebangkrutan di tahun 2000. Entah dikarenakan suatu hal apa, Gilles memutuskan untuk tidak melanjutkan karirnya sebagai arsitek. Maka setelah brainstrorming dengan sang adik di perjalanan tahun 2000, tercetuslah sebuah gagasan yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap gitar.   “ I want to provided for all guitars enthusiast”, ujar Gilles di tanya mengenai visinya. Dia akan melayani siapapun yang tertarik dengan gitar baik itu kolektor, gitaris, ataupun seniman. Maka terciptalah sebuah workshop bernama AGL yang awalnya berada di daerah Cibeunying, Bandung. Merasa masih perlu mencari ilmu, sosok pria jangkung  bertekad baja ini memperdalam ilmunya di bidang gitar. Dia  mengambil pendidikan master dan Doctorat di Amerika Serikat.

Bercerita mengenai awal usahanya ini Gilles mengatakan bahwa merasa tidak sanggup jika mengerjakan sendiri pesanan-pesanan yang berdatangan, oleh karenanya dia merekrut enam orang yang berlatar pengrajin kayu untuk dilatih dengan spesialisasi masing-masing. Usaha yang dijalaninnya ini disadari benar bukanlah sebuah industri besar dengan kapasitas produksi yang masif. Usahanya ini hanyalah sebuah bentuk berkarya seni akan kecintaannya terhadap sesuatu. “ Saya hanya seorang seniman yang berusaha menciptakan sebuah karya, jangan tekan saya dengan waktu”, begitulah dia menjawab pertanyaan saya mengenai bagaimana tekanan dari pelanggan mengenai kecepatan pengerjaan pesanan.

“ Saya hanya seorang seniman yang berusaha menciptakan sebuah karya, jangan tekan saya dengan waktu”

The Works and Being

Dalam pembuatan gitar, khususnya bodi gitar, Gilles banyak menggunakan kayu mahoni lokal yang banyak ditemui di seluruh penjuru nusantara.  Sebagai seorang yang berpengalaman dalam membuat gitar, Gilles berkata bahwa kualitas kayu mahoni dari Indonesia bisa dibilang sangat jempolan. Sedangkan untuk kayu impor, pesanan banyak sekali untuk kayu jenis mapple karena mempunyai kelebihan pada kestabilannya, pori-pori yang kecil, dan finishing yang ciamik.

Ada sebuah pandangan menarik dari Gilles dalam memproses kayu menjadi instrumen musik, semua mengetahui bahwa pohon juga adalah makhluk hidup, pohon yang di potong menjadi kayu diproses lebih lanjut sehingga menciptakan alat musik. Kemudian alat musik tersebut berfungsi sebagai media ekspresi pencarian makna si pengguna. Sedih, gembira bisa keluar dari suara aalat musik itu.  Semua itu adalah sebuah perjalanan, yang berawal dari pohon hingga menjadi alat musik. “dalam perjalanan itu selalu diiringin dengan musik, baik ketika proses membuat gitar yang diiringi musik dari radio, menyetem  yang secara otomatis mengeluarkan nada, bahkan ketika memainkan instrumen tersebut juga merupakan bentuk musik”, ujar Gilles dengan penuh semangat. Cara pandang inilah yang secara tidak langsung menjadi sesuatu yang esensial dan penting untuk dilakukan dalam pembuatan instumen musik.

Dalam melakukan usahanya ini, Gilles merasakan masih kurangnya community Ghatering yang mengapresiasi apa yang dia kerjakan. “calon pelanggan masih kurang appreciate dengan keahlian saya, mereka terkadang menilai dengan sebuah label ‘mahal’ padahal betapa susahnya dalam pembuatan alat musik”, Gilles menjelaskan.  “Dengan kualitas standar internasional seharusnya bisa lebih dimengerti dan diapresiasi”, imbuhnya. Gilles pun berani memberikan garansi terhadap perbaikan alat musik yang yang di order pelanggan.

Hmm…menarik memang apa yang dikerjakan oleh sang Luthier ini, semenarik kata-kata terakhirnya yang dia ungkapkan pada saya menjelang matahari terbenam di penghujung kunjungan saya , beginilah isinya:

“  apapun yg kamu kerjakan dengan intens dan sungguh-sungguh,kamu akan merasa semakin jauh dan semakin dalam di jalan itu makin banyak yang belum kamu ketahui.  Dan ketika begitu kuat rasa ingin tahu yang dirasakan ternyata makin jauh semakin banyak yang belum kita ketahui. Saya tidak pernah berhenti, dan terus mencari lebih baik untuk berkarya dari hari kemarin “

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s