Cracking Bamboo: Kemeriahan ragam bunyi dalam Satu malam

Hari itu Rabu tanggal 31 Maret 2010, kota Bandung kedatangan sejumlah seniman lintas negara – Jerman, AS, Swiss, Denmark, Norwegia, italia, Inggris, China, Vietnam, Kamboja, Mongolia dan masih banyak lagi selain tentunya tuan rumah Indonesia. Mereka tergabung dalam sebuah konsep musikal bertajuk Cracking Bamboo. Gedung teater Tertutup (Dago Tea House) kota Bandung menjadi saksi dialog budaya para musisi lebih dari 20 negara berkat acara yang diselenggarakan Goethe Institute Bandung bersama dengan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

Sekitar pukul 19.45 acara dimulai dengan pembukaan dari Sulastri Madjid yang merupakan Koordinator Program Budaya Goethe Institute Bandung. Penonton yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa dan penikmat musik budaya memenuhi hampir seluruh gedung yang berkapasitas 1.200 penonton itu. Ekspresi riang sekaligus penasaran tergambar jelas dari wajah para penonton malam itu.

Konser dibuka oleh kelompok musik gamelan Kyai Fatahillah UPI Bandung yang memainkan komposisi-komposisi dari Iwan Gunawan. Nuansa eksotis sekaligus magis langsung menyeruak ketika bebunyian keluar dari instrumen pukul tradisional Sunda tersebut. Harmoni-harmoni yang keluar pun begitu nyaman dan menghanyutkan. Terasa cocok sebagai pembuka jalan ragam bebunyian lainnya.

Tiga orang berbaju hitam-hitam yang kemudian saya ketahui adalah trio dari Oslo, Norwegia adalah penampilan berikutnya. Nuansa Bali nan misterius terasa kental diawal aksi mereka dengan membunyikan piring emas berukuran kecil disertai suara decak bergantian dari ketiga musisi itu. Nampak di sudut lain panggung aksi kaligrafi dengan menggunakan mulut dan media kain panjang seorang seniman dari Korea.  Tak lama berselang barulah tiga musisi jangkung itu memainkan irama rancak dan jungle dengan perkusi mereka.

Atmosfer experimental noise selanjutnya mengambil tempat dari performa 11 seniman dengan kostum yang unik dan ajaib. Ada perempuan dengan gaun pengantin membenturkan kepalanya yang ditutupi simbal ke lantai, ada penyelam lengkap dengan tabung oksigennya , ada dokter bedah dengan laptop dan suara digitalnya, gadis pucat berbiola duduk layaknya diatas pohon memainkan nada yang mystical, dan masih banyak peran serta alat musik aneh yang mereka mainkan. Semuanya mereka rangkum dalam satu ranah bebunyian ekperimental yang cukup segar dan membuat alis kita menari.

Klimaks yang saya rasakan malam itu adalah penampilan sekitar 15 musisi dengan berbagai macam perkusi, strings, accordeon,  altosaksofon, biola, gong dan masih banyak lagi. Mereka menghadirkan suasana yang semarak layaknya pesta yang kaya bunyi, harmonis dan menyelip hingga alam bawah sadar saya. Bulu kuduk saya semakin merinding ketika seorang gadis keriting nan cantik mengkonduktori para musisi dengan tarian yang dia ekspresikan sesuai dengan bunyi yang keluar dari tiap alat musik.  Hingga saat tarian gadis tersebut semakin cepat dan liar maka semakin meriah dan memuncaklah pesta bebunyian yang mereka suguhkan.

Cracking Bamboo sendiri bertujuan untuk menjembatani dan mempertemukan musik Asia dan Eropa. Yang menjadi benang merahnya ialah instrumen pukul. Tidak ada alat musik lain yang dapat menjadi penghubung seperti instrumen pukul ini, yang menghubungkan musik kontemporer dengan musik tradisional dari luar Eropa.  “ perkusi ada dimana-mana, oleh karena itu dengan perkusi kita bisa berdialog dengan bahasa yang sama, musik”, Ujar Bernhard Wulff, selaku pemimpin artistik Cracking Bamboo. Konser ini memang menciptakan musik baru dengan keterbukaan terhadap  ragam bunyi yang belum biasa sehingga terbentuk pengelanaan kreatifitas para seniman lintas budaya dan selain itu memberikan pengalaman baru kepada penonton atas kekayaan bunyi yang tidak akan pernah habis dieksplorasi di dunia ini. (Umbara).

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s