Timbul Tenggelam lagu anak Indonesia

Melodi Riang yang mudah diikuti, syair sederhana, mendidik, dan penuh dengan keceriaan. Kira-kira seperti itulah komposisi yang tepat untuk sebuah lagu anak. Akan tetapi, mengapa kini kita  masih membiarkan mereka teracuni lagu dan lirik orang dewasa?

Seberapa sering kita mendengarkan anak-anak kecil menyanyikan lagu-lagu dari Samson, Ungu, Mulan Jameela, dan penyanyi dewasa lainnya? Kira-kira apakah mereka mengerti makna dari lirik lagu yang mereka nyanyikan?

Sangat ironis ketika lagu-lagu macam Pelangi, ambilkan bulan, Hujan, atau lagu-lagu bertema nasionalisme seperti Tanah Airku, Indonesia Tumpah darahku, sudah jarang terdengar dan dibawakan oleh anak-anak. Saat ini, pilihan yang tersedia buat mereka adalah menyanyikan lagu orang dewasa. Ini jelas bukan salah anak-anak. Sejak generasi penyanyi cilik seperti Melisa, Sherina, atau Tasya tak mampu meneruskan tongkat estafet, boleh dibilang tak ada lagi yang bisa dijadikan panutan oleh anak-anak.

Minimnya produksi lagu anak saat ini tidak lepas dari industri musik yang ada di negara kita. Ketika industri musik memandang lagu anak bukan sebagai komoditas yang menguntungkan, maka ruang untuk lagu anak itu sendiri otomatis tertutup. Seperti yang diungkapkan Idhar Resmadi, Chief Editor sebuah majalah musik di Bandung, “ Industri musik di Indonesia hanya mencari potensi yang bisa menjual sementara lagu anak tidak dilirik sama sekali”.

Saat ini, pangsa pasar di industri musik didominasi oleh band dan penyanyi dewasa. Tak ayal, anak-anak lebih hafal lagu orang dewasa ketimbang lagu yang diperuntukkan bagi mereka sendiri. Dulu, label rekaman Sony BMG pernah membuat perusahaan Sony Wonder yang khusus memproduseri lagu anak-anak. Hanya saja karena tak ada ruang promosi, perusahaan  itu menghentikan produksinya.

Satu hal yang merisaukan lagi, menurut pemerhati media asal Fikom Unisba, Santi Indra Astuti, ialah industri musik hanya menganggap lagu anak sebagai bagian dari industri, bukan sebagai gerakan budaya. Padahal, lagu anak merupakan media tepat dalam mewariskan nilai-nilai budaya, mengajarkan norma sosial kepada anak-anak.

Pada dasarnya, lagu anak sendiri bermanfaat untuk mengembangkan suasana hati (afeksi) dari seorang anak. Selain itu, dapat pula mengembangkan kemampuan kognitif, seperti kata dalam lirik lagu dan imajinasi gerakan yang bisa menghadirkan suasana riang gembira. Ada juga dua fungsi utama bagi anak-anak. Pertama, fungsi dari ritme lagu yang mengajarkan gerakan dan konsentrasi, sehingga merangsang stimulan positif pada otak anak. Ketiga, menambah perbendaharaan kata  bagi anak-anak.

Akan tetapi yang harus diingat adalah pentingnya pemilihan kata dalam lirik lagu anak. Ada baiknya kata-kata yang dipilih tidaklah “berat”, mudah diingat serta tema yang berkaitan erat dengan kehidupan mereka, seperti mengenai sekolah, orangtua, belajar, hewan, alam, dan persahabatan. Jangan memaksakan untuk memasukkan tema cinta orang dewasa atau perselingkuhan yanng tidak sesuai dengan perkembangan jiwa mereka.

Lirik lagu yang tidak sesuai akan sangat berbahaya terutama untuk perkembangan kognisi anak. Bahasa yang tidak sesuai akan mereka gunakan tanpa mengetahui apa artinya. Lebih berbahaya lagi, ketika anak menggunakan kata tersebut untuk berkomunikasi. Mereka menggunakan istilah yang sebenarnya tidak mereka pahami, dan secara psikologis itu sangat tidak sejalan dengan perkembangan jiwa seorang anak. “ yang paling mengkhawatirkan adalah akan terjadi penyempitan dunia anak-anak menjadi miniatur dunia orang dewasa. Anak-anak pun akan tumbuh dewasa sebelum waktunya,” ucap Santi, yang juga pegiat Bandung School of Communication Studies.

Lebih jauh lagi Santi menyatakan bahwa saat ini ada pergeseran moral yang terjadi di masyarakat, seperti jika mendengar lirik lagu yang berbunyi “…selingkuh itu indah,” atau “ ..jangan salahkan aku selingkuh”. Jika dulu kita mengetahui “selingkuh” merupakan tindakan yang keluar dari norma-norma yang ada di masyarakat, baik itu norma agama, maupun norma kesusilaan, saat ini selingkuh sendiri dijadikan suatu pembenaran. Nyata sekali bahwa sebuah lagu bisa membawa pengaruh yang tidak kecil terhadap masyarakat. Lagu dapat mengubah pandangan seseorang terhadap suatu hal.

Secara Musikal, lagu anak juga harus diperhatikan secara seksama. Kapasitas normal suara anak-anak hanya 1 oktaf lebih 2 nada, sedangkan lagu dewasa lebih dari 2 oktaf. Jika mereka dipaksa menyanyikan lagu dewasa, akibat yang timbul adalah penyakit kaku suara (bromer) yang membuat vokal anak terganggu, sehingga tidak mampu mencapai nada dengan bagus. Ada juga penyakit “cekung” di mana akan membuat pengucapan intonasi menjadi tidak jelas.

Industri Musik dan Media Massa

Jika dirunut lagi, minimnya lagu-lagu anak yang beredar tidak lepas dari peran media massa, khususnya televisi yang telah menjadi konsumsi wajib kebanyakan masyarakat kita. Saat ini, tidak tersedia ruang untuk video klip penyanyi anak. Televisi didominasi pemutaran video klip penyanyi atau band dewasa, karena lebih menjual. Akibatnya, tempat promosi rekaman lagu-lagu anak pun semakin terpinggirkan, di samping tak adanya pangsa pasar di industri musik. Walhasil, gabungan kekuatan antara kapitalisasi industri musik dan kondisi pertelevisian, berhasil menetup ruang lagu anak yang semakin langka tersebut.

Mungkin akhir-akhir ini kita sering disuguhkan semacam program acara pencarian idola penyanyi cilik di beberapa stasiun televisi. Sepintas acara tersebut membangkitkan optimisme kita terhadap musik anak. Akan tetapi, ketika disimak lebih seksama, ada sesuatu dalam acara tersebut yang bisa membuat kita tertunduk lesu. Ternyata, materi lagu yang dibawakan oleh anak-anak calon idola tersebut adalah lagu orang dewasa. Kenapa mereka tidak diwajibkan menyanyikan lagu yang sesuai usia mereka ?

Kondisi pertelevisian yang mengkhawatirkan ini juga disoroti oleh Santi Indra Astuti. Menurutnya, apa yang anak-anak tonton di televisi sebagian besar adalah infotainment, sinetron, video klip band dewasa, berita kriminal, dan acara lain yang memang bukan porsi mereka. Yang terjadi selanjutnya, muncul suatu hubungan antara yang ditonton dengan apa yang diterima oleh anak. Dalam ilmu komunikasi, ada yang disebut Social Learning Theory di mana anak-anak belajar norma-norma sosial dari televisi—bukan saja nilai-nilai komersil. Mari kita melongok survei yang diadakan oleh UNICEF tahun 2007 yang menyebutkan bahwa rata-rata anak Indonesia menonton TV selama 4-5 jam sehari. Jelas intensitas informasi yang tidak sesuai yang masuk ke dalam otak pun semakin tinggi.

Untuk mengakhiri keadaan mandeknya lagu anak, sebaiknya muncul produser yang berani berspekulasi untik merekam lagu anak. Kalau album itu sukses, kemungkinan besar produser lain mengikuti untuk memproduksi lagu anak. Penyediaan terhadap media promosi juga bisa menjalankan kembali roda industri lagu anak. Televisi sendiri setidaknya bisa memberi porsi untuk program musik anak. Jika acaranya bagus, tentu saja banyak orang yang tertarik untuk menonton, dan apresiasi terhadap musik anak pun akan meningkat. Jika ada pilihan yang tersedia, menarik dan sesuai bagi anak, tentunya kita akan bisa merasakan kembali keceriaan, keriangan, dan kepolosan mereka tanpa harus menjadi dewasa sebelum waktunya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

THE LEGEND OF 1900

Director : Giuseppe Tornatore
Producer : Giuseppe Tornatore,Francesco Tornatore
Screenwiter : Giuseppe Tornatore
Starring : Tim Roth,Pruitt Taylor Vince,Bill Nunn,Clarence Williams III,Melanie Thierry

Bagaimana jadinya jika ada seorang manusia yang dilahirkan, dibesarkan, dan menghabiskan seluruh hidupnya hingga ajal menjemput pada sebuah kapal pesiar?Ya, kisah ini merupakan bagian cerita dalam film The Legend Of 1900. sebuah film monumental karya sutradara asal Italia, Giuseppe Tornatore yang pernah melahirkan film legendaris  Cinema Paradiso.

Diawali dengan penemuan seorang bayi oleh pekerja kasar dalam kapal, Boodman(Bill Nun) yang kemudian membaptis bayi tersebut dengan nama yang cukup nyentrik, Danny Boodman T.D Lemon 1900 yang diperankan Tim Roth. Kecelakaan kerja berujung kematian yang dialami Boodman(bill Nun) akhirnya memaksa 1900(Tim Roth) untuk bertahan hidup sendiri dengan asuhan para pekerja kasar di dalam kapal. Hingga suatu hari ketika beranjak dewasa, seorang manajer kapal menemukan bakat alamiah 1900 dalam bermain piano yang menjadikannya seorang pianis di kapal pesiar tersohor seantero dunia.

Kepribadian yang unik dari 1900 memberikan pengalaman baru kepada penonton bagaimana seorang manusia membuat pilihan atas perjalanan kehidupannya yang hanya dihabiskan di dalam sebuah kapal pesiar yang sudah dianggapnya sebagai rumah tanpa pernah menginjak daratan sekalipun. film ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana nilai-nilai yang telah mapan di masyarakat tidak selamanya bisa sejalan dengan pemikiran manusia-manusia unik seperti 1900. sebuah gambaran tentang kebebasan berkehendak manusia atas hidupnya.

Secara musikal film ini menawarkan konsep menarik seorang pianis jenius yang memainkan komposisi-komposisi musik sesuai dengan mood yang sedang dirasakannya saat itu juga. Begitu ekspresif, penuh improvisasi, ekploratif dengan artikulasi yang jelas tapi tetap harmonis. Seperti ketika 1900 memainkan komposisi musik yang sangat melankolis, dalam dan begitu indah saat dia jatuh cinta dengan seorang perempuan.

BEST SCENE: adegan dimana 1900 melakukan duel tiga babak dengan seorang pianis yang mendeklarasikan dirinya sebagai “penemu Jazz”, Jelly Roll Morton( Clarence William III).sebuah duel panas nan mencengangkan yang akhirnya dimenangkan dengan hook telak oleh 1900.

Bagi kalian penyuka film drama yang inspiring, dalam sekaligus menyentuh, saatnya lah menonton The Legend Of 1900. wajib dikoleksi pisan euy!! 
(
Umbara).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jendela Ide Kids Percussion at 40th Erasmus Huis Celebration

Bertempat di Erasmus Huis Jl. H.R. Rasuna Said Kav.S-3 acara selebrasi ke 40 pusat kebudayaan Belanda itu diwarnai sejumlah acara musik, exhibition Exopolis, fashion show dan makan malam bersama. Rombongan Jendela Ide telah datang sekitar pukul 09.00 di venue untuk mempersiapkan konser malam ini yang membagi stage performance menjadi dua.

Acara dibuka secara resmi sekitar pukul 18.30 oleh perwakilan dari Erasmus Huis. Tanpa terduga penonton yang datang malam itu jumlahnya cukup banyak, hampir memenuhi seluruh tempat di Erasmus Huis. Setelah makan malam bersama, music performance diawali sebuah band bernama Mosselband yang semua personilnya sudah berumur. Penonton semakin padat ketika Hind, seorang penyanyi wanita berdarah Belanda-Maroko unjuk gigi di atas panggung. Bersama bandnya, Hind cukup menarik perhatian para penonton dengan musik yang groovy racikan RnB, Pop, Jazz, Fado disertai alunan  merdu suara Hind dengan sentuhan arabic.

Hingar bingar semakin terasa ketika Jendela Kids Percussion mengambil tempat di stage depan. Diawali dengan komposisi berjudul Piriwit, Kesemarakan bunyi alat pukul dari anak-anak yang ajaib itu berhasil menghipnotis para penonton dengan aksi mereka yang memukau dengan kostum putih-putih dan aksesoris yang eye catching. Sesekali terdengar alunan tarumpet sejenis alat tiup khas Sunda – mengiringi dentuman irama djembe yang membuat tubuh bergoyang. Aksi batlle dari dua penabuh djembe menambah riuh tepuk tangan dari penonton yang nampak asyik menikmati sajian musik yang sensasional tersebut.  Komposisi Katinggang berikutnya juga tidak kalah menaikkan gairah orang yang menyaksikan. Setelah tiga komposisi  dimainkan, Jendela Ide Kids Percussion sempat break dulu diselingi penampilan dari Hind lagi. Barulah sekitar pukul 21.00, irama Rampak Kendang dikawinkan dengan perkusi, dan tarumpet kembali menyeruak di stage depan menyusupi rasa penasaran para penonton yang kembali merapat  bersamaan. Sekali lagi apresiasi penonton sungguhlah luar biasa melihat kelihaian anak-anak itu bermain musik. Penampilan mereka diakhiri dengan parade menuju stage dalam dikomandani oleh drummer nan gelimang, Bintang sebagai penjaga irama hingga mencapai klimaks dalam komposisi terakhir berjudul Panganten.

Apresiasi yang luar dari para penonton Celebration Erasmus Huis ini mudah-mudahan memberikan kenangan yang mendalam dan tidak terlupakan dari rangkaian acara musik dan seni di salah  satu pusat kebudayaan yang rutin menggelar event setiap bulannya. Salute untuk Erasmus Huis, dua jempol juga untuk aksi indah Jendela Ide Kids Percussion! Mantab pisan barudak!!( Umbara)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cracking Bamboo: Kemeriahan ragam bunyi dalam Satu malam

Hari itu Rabu tanggal 31 Maret 2010, kota Bandung kedatangan sejumlah seniman lintas negara – Jerman, AS, Swiss, Denmark, Norwegia, italia, Inggris, China, Vietnam, Kamboja, Mongolia dan masih banyak lagi selain tentunya tuan rumah Indonesia. Mereka tergabung dalam sebuah konsep musikal bertajuk Cracking Bamboo. Gedung teater Tertutup (Dago Tea House) kota Bandung menjadi saksi dialog budaya para musisi lebih dari 20 negara berkat acara yang diselenggarakan Goethe Institute Bandung bersama dengan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

Sekitar pukul 19.45 acara dimulai dengan pembukaan dari Sulastri Madjid yang merupakan Koordinator Program Budaya Goethe Institute Bandung. Penonton yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa dan penikmat musik budaya memenuhi hampir seluruh gedung yang berkapasitas 1.200 penonton itu. Ekspresi riang sekaligus penasaran tergambar jelas dari wajah para penonton malam itu.

Konser dibuka oleh kelompok musik gamelan Kyai Fatahillah UPI Bandung yang memainkan komposisi-komposisi dari Iwan Gunawan. Nuansa eksotis sekaligus magis langsung menyeruak ketika bebunyian keluar dari instrumen pukul tradisional Sunda tersebut. Harmoni-harmoni yang keluar pun begitu nyaman dan menghanyutkan. Terasa cocok sebagai pembuka jalan ragam bebunyian lainnya.

Tiga orang berbaju hitam-hitam yang kemudian saya ketahui adalah trio dari Oslo, Norwegia adalah penampilan berikutnya. Nuansa Bali nan misterius terasa kental diawal aksi mereka dengan membunyikan piring emas berukuran kecil disertai suara decak bergantian dari ketiga musisi itu. Nampak di sudut lain panggung aksi kaligrafi dengan menggunakan mulut dan media kain panjang seorang seniman dari Korea.  Tak lama berselang barulah tiga musisi jangkung itu memainkan irama rancak dan jungle dengan perkusi mereka.

Atmosfer experimental noise selanjutnya mengambil tempat dari performa 11 seniman dengan kostum yang unik dan ajaib. Ada perempuan dengan gaun pengantin membenturkan kepalanya yang ditutupi simbal ke lantai, ada penyelam lengkap dengan tabung oksigennya , ada dokter bedah dengan laptop dan suara digitalnya, gadis pucat berbiola duduk layaknya diatas pohon memainkan nada yang mystical, dan masih banyak peran serta alat musik aneh yang mereka mainkan. Semuanya mereka rangkum dalam satu ranah bebunyian ekperimental yang cukup segar dan membuat alis kita menari.

Klimaks yang saya rasakan malam itu adalah penampilan sekitar 15 musisi dengan berbagai macam perkusi, strings, accordeon,  altosaksofon, biola, gong dan masih banyak lagi. Mereka menghadirkan suasana yang semarak layaknya pesta yang kaya bunyi, harmonis dan menyelip hingga alam bawah sadar saya. Bulu kuduk saya semakin merinding ketika seorang gadis keriting nan cantik mengkonduktori para musisi dengan tarian yang dia ekspresikan sesuai dengan bunyi yang keluar dari tiap alat musik.  Hingga saat tarian gadis tersebut semakin cepat dan liar maka semakin meriah dan memuncaklah pesta bebunyian yang mereka suguhkan.

Cracking Bamboo sendiri bertujuan untuk menjembatani dan mempertemukan musik Asia dan Eropa. Yang menjadi benang merahnya ialah instrumen pukul. Tidak ada alat musik lain yang dapat menjadi penghubung seperti instrumen pukul ini, yang menghubungkan musik kontemporer dengan musik tradisional dari luar Eropa.  “ perkusi ada dimana-mana, oleh karena itu dengan perkusi kita bisa berdialog dengan bahasa yang sama, musik”, Ujar Bernhard Wulff, selaku pemimpin artistik Cracking Bamboo. Konser ini memang menciptakan musik baru dengan keterbukaan terhadap  ragam bunyi yang belum biasa sehingga terbentuk pengelanaan kreatifitas para seniman lintas budaya dan selain itu memberikan pengalaman baru kepada penonton atas kekayaan bunyi yang tidak akan pernah habis dieksplorasi di dunia ini. (Umbara).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ray (album’s soundtrack)

Directed by Taylor Hackford

Produced by Taylor Hackford, Stuart Benjamin, Howard Baldwin, Karen Baldwin Written by James L. White

Starring Jamie Foxx

Music by Craig Armstrong, Ray Charles (songs)

Cinematography Paweł Edelman

Distributed by Universal Pictures

Release date(s) October 19, 2004

Ketika dirinya meninggal pada 10 Juni 2004 di usia 73 tahun, Ray Charles menyisakan banyak sekali pujian dan penghargaan atas karya-karya dan perjalanan musiknya. Bersama dengan Johnny Cash, dirinya dianggap sebagai musisi yang menerima banyak penghargaan setelah meninggal dunia. Untungnya dunia ini masih mempunyai artefak bersejarah dari sang legenda Ray Charles. Sebuah film biografi yang dikerjakan oleh Taylor Hackford sejak tahun 1988 dengan luar biasa brilian menyingkap kehidupan sang pianis kelahiran Georgia ini. Yang terpilih untuk memerani Ray Charles adalah aktor multi talenta Jamie Foxx. Sang sutradara mempertemukannya langsung ketika Ray Charles masih hidup. Untungnya Jamie Foxx memang memiliki bakat dalam bermusik sehingga ketika Ray Charles menyuruhnya untuk duduk di depan piano dan memainkannya, Ray langsung berkata kepada sang sutradara, “ He’s the one…He can do it”.

Filmnya sendiri mengisahkan bagaimana Ray Charles yang sejak umur 7 tahun mengalami kebutaan berjuang untuk mencari “jalannya” sendiri melalui asuhan ibunya yang keras. Ray menemukan “panggilannya” untuk duduk di depan piano dengan bakat yang ia punyai. Bermain dari kota kecil hingga terkenal seantero dunia. Tapi ia larut tenggelam dalam jeratan obat-obatan terlarang hingga sulit melupakan trauma atas kematian adiknya di masa kecil.

Jika membahas soundtrack film Ray yang berisi 17 lagu, maka jika kita mendengar keseluruhan albumnya, ungkapan greatest Hits collection seakan-akan cocok untuk album yang menelusuri perjalanan hidup Ray Charles ini. Sebagian besar rekamannya dilangsungkan di dalam studio dan sisanya adalah suasana live tracks yang enerjik dan ekspresif. Perusahaan ABC records lah yang merekam musik rhythm and blues dengan sedikit sentuhan gospel dimana Ray Charles mengabadikan semua karya-karya yang paling diingat sepanjang masa. Ray Charles juga tak hanya mengeksplorasi rhythm and blues tetapi dia juga  merambah ke musik country, gospel dan jazz yang semuanya dilakukannya dengan penuh penjiwaan. Setiap permainannya dilontarkan dengan penuh emosi dan cinta untuk menghidupi detil-detil musiknya. Dia menginjeksi setiap lagu dengan permainan piano yang lembut dan penuh hasrat. Ciri khasnya yang tak bisa diingkari lagi adalah  gaya piano bluesy dengan vokal suara meraung serta kehangatan sosoknya.

Tak ada lagu yang berhasil menangkap kehangatan dan kejeniusan selain lagu untuk negara bagian Georgia, yaitu Georgia On My Mind. Di dalam album soundtrack ini ada dua versi yang sama-sama memikatnya, yang satu direkam di dalam studio dan satu lagi live recording yang tak ada tandingannya dengan pendekatan yang berbeda. Diawali dengan intro dari horn Section menyentuh lalu masuk lirik yang dikumandangakan Ray dengan penuh penghayatan, pianonya mengalun menanjak dan mengisi kord-kord yang sangat blues. Sementara itu horn section mengisi suasana dengan tiupan trompet yang tipis dan lengkingan saksofon hingga pada masuk pada  part rubato dan menuju  akhir diiringi lengkingan dan raungan horn section dan disudahi dengan ramuan kord yang tenang.

Hit The Road Jack, yang dinyanyikan oleh The Raelettes, yaitu para penyanyi latar dari Ray yang tak kalah memikat. Dimulai dengan permainan piano yang sederhana serta descending line dari Ray. Kemudian terjadi sahut-sahutan vokal antara The Raelettes dan Ray, begitu menghentak, sederhana  tetapi membangkitkan semangat.  Let The Good Times Roll adalah rekaman live lainnya yang dibuka dengan megah melaui gaya big band. Ketika Ray mulai bernyanyi, alunan terompet memainkan nada-nada tinggi disertai penjarian yang cepat liukan saksofon. Seperti judulnya, permainan seluruh band seakan menunjukkan bagaimana menyikapi saat-saat yang menyenangkan dalam bermain musik dengan balutan blues yang kental.

Awal-awal karirnya memproduksi lagu, muncul satu lagu yang begitu menyenangkan dan catchy yaitu Mess Around. Lagu ini menyuguhkan riff piano yang cepat dibalut beat drum yang sangat sederhana serta riff simpel saksofon namun berkat kualitas musisi-musisinya lagu ini tidak terdengar membosankan. Dan satu lagi lagu live version yang enerjetik dan membuktikan kepiawaian seorang Ray Charles berjudul What’d I Say. Dibuka dengan elektrik piano yang dilanjutkan dengan permainan band pengiring secara serentak walau terdengar miss lyrics dari Ray Charles pada awal lagu namun penijwaan mereka membuat lagu ini tetap enak didengar hingga akhir. Satu hal yang pasti tak asing terdengar ketika sahut-sahutan vokal (call-answer section) yang khas dari  Ray Charles dengan backing vocal. Horn Section dengan nada-nada tinggi berhasil menjaga suasana enerjik plus semangat hingga akhir lagu.

Original Soundtrack film Ray ini menunjukkan sosok Ray Charles sebagai musisi dengan performa panggung yang gemilang dan juga sebagai musisi studio rekaman yang piawai. Setiap perjalanan karirnya terekam dalam satu bentuk album yang mumpuni. Kecintaan tulusnya terhadap musik, semangat blues yang tertanam di dirinya seakan menghilangkan hambatan fisik yang dialaminya (kebutaan) dan pada akhirnya terwujud dalam kecemerlangan dari tiap rekamannya.

(Umbara Purwacaraka)

Recommended Tracks:
Mess Around
Mary Ann
What’d I Say (Live)
Georgia On My Mind (Both Versions)
Hit the Road Jack
Let the Good Times Roll (Live)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nick Mamahit…. Denting Piano Tak Terlupakan

Jika ditelisik sejarah perkembangan Jazz di Indonesia tak banyak kita temui literatur, dokumen, atau foto-foto mengenai Nick Mamahit padahal bisa dibilang dia merupakan pianis Jazz terbaik di Indonesia pada tahun 1950-an dan tokoh penting pergerakan Jazz tanah air paska kemerdekaan. Banyak musisi yang secara tidak langsung merasakan pengaruh dari karya-karyanya yang bersahaja.  Bagaimana sebenarnya kiprah seorang pianis yang karirnya tercatat lebih panjang dari sejarah kemerderkaan Indonesia ini…

Oleh: Umbara Purwacaraka

Foto: Dari berbagai Sumber

The Beginning

Nicholas Maximiliaan Mamahit adalah nama lengkap pria yang lahir di Jakarta 30 Maret 1923 dari pasangan Lodwidjk Maurits yang indo-belanda dan ibunya Louisa Johanan van Opdurp, wanita berdarah Manado yang masih memiliki garis keturunan Belgia-Belanda.

Bakatnya dalam bermusik merupakan turunan dari sang ayah yang piawai bermain flute. Tradisi di keluarga yang akrab dengan musik Jazz membuat Nick Mamahit kecil tergoda ketika mendengar ayahnya bermain piano. Secara alamiah, ketika umurnya menginjak 9 tahun Nick berusaha menggali kebiasaan-kebiasaannya mendengar sang ayah bermain musik untuk diterapkan sendiri pada alat musik yang membuatnya jatuh hati (piano). Kala itu dia belum bisa membaca notasi dan kakinya pun belum bisa menyentuh pedal piano, namun secara intuitif dan berdasarkan insting musikal maka terus berkembanglah bakat musik seorang Nick Mamahit . Keseriusan juga ditunjukkan Nick Mamahit pada saat sang ayah memintanya memainkan piano dihadapan Vootbal Verniging Minahasa(VVM) – sebuah perkumpulan sepakbola – dimana kala itu sang ayah bertugas menjadi bendahara. Nick pernah masuk sekolah teknik perlistrikan, namun sepertinya ia memang lebih tertarik memainkan piano, sehingga gurunya menyarankan agar ia memilih sekolah musik saja.

‘yang terpenting adalah mempelajari tone karena tanpa harus melihat pun orang akan mengetahui siapa yang memainkan musik.’

Ketika beranjak dewasa sekitar tahun 1944, Nick menikahi seorang perempuan bernama Louise Henriette. Setelah itu pada tahun 1948 berangkatlah Nick Mamahit ke Amsterdam untuk mengecap pendidikan formal di Amsterdam Music Conservatory dan berhasil mendapatkan Staatssexamens voor Muziek, semacam ijasah Negara bidang Musik. Proses kreatif seorang Nick dalam mempelajari piano ternyata benar-benar didapatkannya dengan tidak mudah. Ketika di Amsterdam Music Conservatory dia banyak menghabiskan waktu memencet-mencet tuts piano hingga mendapatkan tone yang tepat untuk ciri bermusiknya. Baginya musisi yang baik harus menguasai benar instrumen yang dimainkannya dan yang terpenting dari semua itu adalah mempelajari tone karena dengan tone tanpa harus melihat pun orang akan mengetahui siapa yang memainkan musik. Musik klasik adalah sesuatu yang didalaminya ketika menempa pendidikan di negeri tulip itu. Kedisiplinan, ketekunan dan ketelitian dalam mempelajari musik klasik sudah menjadi tradisi yang mengakar bagi diri Nick Mamahit yang di kemudian hari akan membentuk ciri dan pendekatan yang khas bagi dirinya dalam membuat komposisi (karya) musik.

Rebirth

Tahun 1950 adalah awal “kelahirannya kembali” setelah menempa ilmu musik secara mendalam di negeri kincir angin. Sesaat setalah menginjak tanah air, Nick Mamahit mendirikan sebuah trio jazz yang bernama The Progressive bersama Dick Abel(gitar) dan Van Der Capellen(bass). Nama The Progressive sendiri diambil dari aliran jazz yang sedang hangat dan kerap dimainkan banyak musisi pada saat itu. Lagu-lagu yang terekam antara lain Rindu, Tanam Djagung, dan Tjemas lewat label Irama, perusahaan rekaman milik mas Yos, namun sayang rekaman ini kurang mendapat tanggapan pasar karena dianggap melintas batas peradaban dan terlalu maju untuk jamannya. Saat itu musik Indonesia banyak dipengaruhi musik ballroom dengan penekanan pada musik Latin seperti cha cha, tango,rhumba dan sejenisnya.Sementara The Progressive mulai menafsirkan musik pop atau tradisional dalam gaya jazz dan mulai menggunakan akord-akord yang progresif serta aransemen yang tidak sederhana lagi. Akhirnya trio ini bubar.

Nick lantas tak tinggal diam, tak lama berselang dia mengajak Jim Espehana (bass) dan Bart Risakotta (drum) membentuk sebuah trio bernama “Irama Spesial”. Seakan tidak mau mengulang kesalahan Rekaman yang mereka buat lebih bersahaja dan bisa diterima oleh kuping orang awam. Albumnya pun laris di pasaran. Keadaan itu membuatnya semakin bergairah. Pada tahun 1953, Nick kembali membentuk trio. Kali ini dia mengajak Sam Saimun dan Bing Slamet. Trio ini berhasil membuat beberapa rekaman, salah satunya adalah Sarinande yang dirilis pada tahun 1956. Trio ini banyak mengaransemen lagu-lagu tradisional (rakyat) ke dalam bentuk pola aransemen berbau western dengan dasar permainan piano Nick Mamahit dan sedikit improvisasi Jazz. Hal kompromis seperti ini mereka lakukan untuk dapat merebut penggemar tanpa harus meninggalkan sisi idealisme, karena memang Nick Mamahit mempunyai misi untuk melestarikan lagu-lagu rakyat yang menjadi identitas bangsa Indonesia.  Lagu-lagu pada album ini antara lain Ayo Mama, sarinande, Inang Sarge-Leleng Ma Hupaina, Gunung Salahutu, Rajuan Pulau Kelapa, Tari Pajung-Kaparinjo, O Ina Ni Keke, termasuk Dibawah Sinar Bulan Purnama karya Maladi.

‘Nick Mamahit mempunyai misi untuk melestarikan lagu-lagu rakyat yang menjadi identitas bangsa Indonesia’

Misinya terus berlanjut untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali lagu-lagu rakyat dalam aransemen yang kuat akan unsur World Jazz. Kepiawaian meramu musik rakyat itulah yang menjadi ciri khas Nick Mamahit. Album yang dirilis tahun 1961 ini berjudul Rindu dengan memboyong musisi-musisi seperti M. Setijoso (gitar), Vic Tobing (bass) dan Bart Risakotta (drums). Permainan pianonya yang kaya nuansa dan kaya interpretasi membuat setiap lagu yang disimak penikmatnya menjadi sesuatu yang baru tanpa menghilangkan tekstur dan struktur notasi orisinalnya. Improvisasi yang dibalut Nick Mamahit terasa tidak berlebihan dan sangat bersahaja. Nick seolah ingin kontekstual dalam penafsiran musiknya. Sebuah lagu rakyat Maluku berjudul Kole-Kole, diartikulasikannya dengan nuansa pantai yang syahdu dan menjelma dalam pola ritme gaya polonaise. Dengan fasih Nick juga berusaha merasuki alam Pasundan lewat lagu “Dengkleung” yang kental rasa minornya dan ditaburi dengan  aransemen yang agak off-beat. Lalu nuansa musik meloncat ke Sumatera Barat lewat lagu “Urang Talu” yang dibaluri Latin Beat oleh Nick Mamahit. Satu lagi yang patut disimak ketika Nick menterjemahkan “Gambang Suling” karya Ki Narto Sabda dengan artikulasi permainan piano yang kental akan dialek Jawa. Walau tak terdengar sedikitpun bebunyian gamelan setiap orang akan merasakan hawa yang tentram dan tenang di bumi Jawa nan asri.

Di tahun 1975 muncul sebuah album bertajuk “Padamu” yang merupakan album tribute untuk Bing Slamet. Kedekatannya secara personal dengan Bing Slamet menggugah batin Nick untuk merilis album instrumental setelah hampir 14 tahun rehat tidak membuat karya. Hampir keseluruhan album ini merupakan karya hits Bing Slamet yang diaransemen ulang ke dalam warna Jazz oleh Nick Mamahit menjadikan lagu-lagu hits Bing terdengar berbeda dan bahkan unik. Lagu “Padamu” dipilih menjadi judul album selain pas dengan konsep tribute yang diartikan sebagai persembahan Nick ‘padamu’ Bing, juga merupakan lagu Bing yang menjadi favorit Nick secara personal.

Music From The Jakarta Mandarin Hotel di tahun 1982 tercatat sebagai album terakhir yang pernah direkam oleh Nick Mamahit. Kala itu di bermain rutin di Hotel Mandarin. Manager Hotel Mandarin waktu itu, John M. Daniels lah yang memberikan ide sehingga tercipta album yang berisi 15 lagu dengan musisi-musisi pendukung Wiharto (tenor Sax, Flute) , Dicky Prawoto (bass), dan Karim (drums). Sabda Alam yang dimainkan solo oleh oom Nick membuka album ini, memberikan ciri latar belakang musik klasik yang sempat didalaminya di Belanda, yang kemudian diteruskan dengan variasi diiringi oleh bass dan drums. Sentuhan funk dan flute Wiharto menjadi jembatan komposisi dalam lagu Gubahanku karya Gatot Sunyoto. Yang paling menarik mungkin Bengawan Solo menjadi satu keunggulan di album ini. Ketika swing dipadukan dengan karawitan dan sedikit sentuhan ala J.S Bach sebagai cara memainkan komposisi ini, mungkin siapapun akan berpikir bahwa ini sangat berlebihan, tetapi dengan cerdiknya Nick berhasil lolos dari perangkap yang menghadang.

The Other Side

Jika menelusuri sejarah perkembangan Jazz di Indonesia, seorang pengamat musik, Denny Sakrie yang banyak mengangkat kisah Nick Mamahit sempat membagikan beberapa pernyataan yang pernah diungkapkan Nick Mamahit . Menurut Nick di Indonesia banyak sekali pemusik yang berbakat, tetapi sayangnya bakat-bakat itu tidak  ditunjang secara akademis padahal musik itu harus dipelajari secara mendalam tidak hanya mengandalkan insting maupun bakat saja. Dan secara kritis Nick pernah mengatakan bahwa musik yang bagus, selain harus dimainkan, juga wajib ditulis. Nick juga menyayangkan regenerasi musisi jazz di Indonesia kurang signifikan. Jumlah pemusik jazz tak pernah meningkat dalam kuantitas.

Lelaki berdarah Manado ini juga pernah berkata, “Kalau kita ambil buku musik klasik, di lembar pertama kita akan lihat nama para komposer. Kalau buku jazz terbalik. Di lembar pertama adalah judul lagu, di lembar berikutnya (baru) nama-nama para musisi yang memainkan lagu tersebut.” Itulah kiranya yang membuat musik jazz menjadi kurang membumi, apalagi di Indonesia. “Kita mesti belajar itu semua. Itu yang sebetulnya harus dilakukan oleh beberapa musisi kita. Tidak usah lewat festival, lewat rekaman sudah cukup. Dengan begitu kita bisa membandingkan kemampuan orang, dan dia sendiri juga bisa berkembang,” lanjut Nick seperti yang dikutip dari suratkabar Kompas edisi 26 September 2000.

Jika menilai musik yang dikreasikan Nick Mamahit, Denny Sakrie sebagai seorang pengamat musik yang berpengalaman mengutarakan, “Ciri Nick Mamahit adalah lebih banyak memainkan piano lounge dengan pendekatan jazz. Ini terlihat dari berbagai rekamannya yang cenderung memainkan lagu jazz standar ,pop standar maupun lagu lagu tradisional yg kemudian diarransemen dalam bentuk yang cenderung ke jazz. “Nick Mamahit bermain jazz dengan berbagai pendekatan. Dia bisa menjelajah Be-bop,swing, Hard Bop juga Dixieland. Pengaruh musik jazz era Perang Dunia II memang merupakan repertoar yg membentuk jatidiri musiknya”, lanjut Denny Sakrie.

Di tahun 1988 istri tercintanya Louise Henriette Van Beugent – meninggal dunia. Dari istrinya lah lahir empat orang anak dan salah satunya meneruskan jejak Nick sebagai Musisi bahkan hingga sampai ke Australia, dan tercatat sebagai penyanyi sekaligus gitaris folk pertama di Indonesia sebelum jenis musik ini mewabah pada kurun 1970-an .

Aksi Nick masih bertahan meramaikan dunia permusikan Indonesia sampai akhir dekade 1990-an. Tercatat, selama 15 tahun Nick masih bermain secara reguler di Hotel Mandarin, Jakarta, hingga pada sekitar tahun 1996 Nick mengendurkan aktivitasnya karena mulai terserang stroke. Meski sudah sangat jarang tampil, Nick masih tetap aktif melatih jari-jarinya supaya tak terus kaku akibat stroke yang menyerangnya itu. Pria yang terkenal dengan kepribadian yang perfeksionis ini gemar mengoleksi buku tentang musik, entah buku-buku musik klasik ataupun jazz. Bahkan banyak bukunya yang tua yang berbahasa Belanda. Sayang, sebagian bukunya habis dimakan rayap, hancur karena udara lembab, dan tak terurus ketika ia terserang stroke.

Tercatat pada tanggal 25 januari 2003 merupakan penampilannya yang terakhir dalam acara Bimasena Jazz Evening yang bekerja sama dengan Jakarta Jazz Society (JJS) di Hotel Darmawangsa. Satu hal yang mungkin takkan pernah terlupakan dari sosok Nick Mamahit, dia adalah salah satu pionir di Indonesia yang tetap konsisten di dunia jazz hingga akhir hayatnya.

DISKOGRAFI

Irama Spesial – The Progressive ( Irama ,1952)
Irama Quartet – The Progressive ( Irama ,1954)
Sarinande – Nick Mamahit ( Irama ,1956)
Rindu  – Nick Mamahit ( Irama ,1961)
Padamu – Nick Mamahit ( Irama ,1975)
Music From The Jakarta Mandarin Hotel – Nick Mamahit ( Atlantic Record,1982)

Nice Fact :

ternyata diluar musik jazz Nick juga memiliki intuisi dalam musik pop. Tahun 1973, komposisi karya Nick dibawakan oleh Broery Marantika berjudul Cinta Abadi ( Love Eternally ) dan berhasil memenangkan Festival Lagu Populer Indonesia yang pertama kalinya diadakan, dan mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival,Budokan Hall,Tokyo,Jepang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gilles Si Seniman Dawai

Di sore yang sejuk dan mendung itu saya melajukan kendaraan ke daerah Lembang tempat kediaman Gilles E.D. Nève, seorang Luthier atau yang biasa disebut juga sebagai pengrajin instrumen berdawai.

Tulisan dan foto Oleh: Umbara Purwacaraka

Sosoknya yang santai dan bersahaja menyambut saya dengan hangat di rumah sekaligus “bengkel”nya yang tenang dan asri di kawasan Komplek Graha Puspa. Saat ini Gilles memiliki sebuah perusahaan bernama AGL (Asia Guitar Labs) yang fokus dalam pembuatan dan reparasi instrumen berdawai. AGL merupakan salah satu Luthier Indonesia yang memliki reputasi baik dengan kualitas premium atas hasil pekerjaannya dan bisa disejajarkan dengan dengan kualitas gitar impor lainnya.

Profesinya  sebagai pengrajin dawai dilatar belakangi ketika usianya  masih sangat muda. Ketika kakaknya membeli dan membawa sebuah gitar pulang ke rumah, Gilles merasakan ketertarikan dan rasa penasaran yang sangat tinggi. Namun karena dia seorang kidal maka dia kesulitan untuk belajar memainkan gitar yang”normal”. kemudian, bersama sang ayah Gilles mengelilingi kota Bandung untuk mencari gitar kiri ke seluruh toko musik pada waktu itu tapi tak kunjung jua menemukan apa yang diinginkannya. Untuk sementara Gilles memutuskan belajar memainkan gitar dengan senar terbalik hingga sekitar tahun 1980 keinginannya untuk memiliki gitar kiri sendiri semakin kuat dan tak terbendung lagi.  Dengan bekal tekadnya itu didatanginya lah  seorang pengrajin gitar bernama Oen Peng Hoek di daerah Kopo. Dengan keinginan yang kuat juga, Gilles merayu Oen Peng Hoek untuk mengajarinya cara membuat gitar. Berkat ketekunan dan kedisiplinan dalam belajar, gitar pertama buatan Gilles diselesaikan dalam waktu 10 minggu dengan peralatan yang sederhana dan seadanya.

“ I Want To Provide For All Guitars Enthusiasts “

The Story Begin

Latar pendidikan Gilles sebenarnya adalah arsitektur. Lulusan kampus Atenas(red: Itenas saat ini) adalah seorang arsitek handal yang telah memiliki perusahaan kontraktor sendiri. Namun perusahaan yang dirintisnya sejak tahun 1986 itu mendapat imbas krisis moneter dan akhirnya mengalami kebangkrutan di tahun 2000. Entah dikarenakan suatu hal apa, Gilles memutuskan untuk tidak melanjutkan karirnya sebagai arsitek. Maka setelah brainstrorming dengan sang adik di perjalanan tahun 2000, tercetuslah sebuah gagasan yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap gitar.   “ I want to provided for all guitars enthusiast”, ujar Gilles di tanya mengenai visinya. Dia akan melayani siapapun yang tertarik dengan gitar baik itu kolektor, gitaris, ataupun seniman. Maka terciptalah sebuah workshop bernama AGL yang awalnya berada di daerah Cibeunying, Bandung. Merasa masih perlu mencari ilmu, sosok pria jangkung  bertekad baja ini memperdalam ilmunya di bidang gitar. Dia  mengambil pendidikan master dan Doctorat di Amerika Serikat.

Bercerita mengenai awal usahanya ini Gilles mengatakan bahwa merasa tidak sanggup jika mengerjakan sendiri pesanan-pesanan yang berdatangan, oleh karenanya dia merekrut enam orang yang berlatar pengrajin kayu untuk dilatih dengan spesialisasi masing-masing. Usaha yang dijalaninnya ini disadari benar bukanlah sebuah industri besar dengan kapasitas produksi yang masif. Usahanya ini hanyalah sebuah bentuk berkarya seni akan kecintaannya terhadap sesuatu. “ Saya hanya seorang seniman yang berusaha menciptakan sebuah karya, jangan tekan saya dengan waktu”, begitulah dia menjawab pertanyaan saya mengenai bagaimana tekanan dari pelanggan mengenai kecepatan pengerjaan pesanan.

“ Saya hanya seorang seniman yang berusaha menciptakan sebuah karya, jangan tekan saya dengan waktu”

The Works and Being

Dalam pembuatan gitar, khususnya bodi gitar, Gilles banyak menggunakan kayu mahoni lokal yang banyak ditemui di seluruh penjuru nusantara.  Sebagai seorang yang berpengalaman dalam membuat gitar, Gilles berkata bahwa kualitas kayu mahoni dari Indonesia bisa dibilang sangat jempolan. Sedangkan untuk kayu impor, pesanan banyak sekali untuk kayu jenis mapple karena mempunyai kelebihan pada kestabilannya, pori-pori yang kecil, dan finishing yang ciamik.

Ada sebuah pandangan menarik dari Gilles dalam memproses kayu menjadi instrumen musik, semua mengetahui bahwa pohon juga adalah makhluk hidup, pohon yang di potong menjadi kayu diproses lebih lanjut sehingga menciptakan alat musik. Kemudian alat musik tersebut berfungsi sebagai media ekspresi pencarian makna si pengguna. Sedih, gembira bisa keluar dari suara aalat musik itu.  Semua itu adalah sebuah perjalanan, yang berawal dari pohon hingga menjadi alat musik. “dalam perjalanan itu selalu diiringin dengan musik, baik ketika proses membuat gitar yang diiringi musik dari radio, menyetem  yang secara otomatis mengeluarkan nada, bahkan ketika memainkan instrumen tersebut juga merupakan bentuk musik”, ujar Gilles dengan penuh semangat. Cara pandang inilah yang secara tidak langsung menjadi sesuatu yang esensial dan penting untuk dilakukan dalam pembuatan instumen musik.

Dalam melakukan usahanya ini, Gilles merasakan masih kurangnya community Ghatering yang mengapresiasi apa yang dia kerjakan. “calon pelanggan masih kurang appreciate dengan keahlian saya, mereka terkadang menilai dengan sebuah label ‘mahal’ padahal betapa susahnya dalam pembuatan alat musik”, Gilles menjelaskan.  “Dengan kualitas standar internasional seharusnya bisa lebih dimengerti dan diapresiasi”, imbuhnya. Gilles pun berani memberikan garansi terhadap perbaikan alat musik yang yang di order pelanggan.

Hmm…menarik memang apa yang dikerjakan oleh sang Luthier ini, semenarik kata-kata terakhirnya yang dia ungkapkan pada saya menjelang matahari terbenam di penghujung kunjungan saya , beginilah isinya:

“  apapun yg kamu kerjakan dengan intens dan sungguh-sungguh,kamu akan merasa semakin jauh dan semakin dalam di jalan itu makin banyak yang belum kamu ketahui.  Dan ketika begitu kuat rasa ingin tahu yang dirasakan ternyata makin jauh semakin banyak yang belum kita ketahui. Saya tidak pernah berhenti, dan terus mencari lebih baik untuk berkarya dari hari kemarin “

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Identitas Kesundaan Seorang Elang Rahayu

Kebiasaan yang telah turun-temurun di dalam sebuah keluarga secara sadar ataupun tidak sadar akan mengendap perlahan-lahan dan mewujud menjadi identitas diri para anggota keluarganya. Hal inilah yang terpatri dalam diri seorang Elang Rahayu. Berasal dari keluarga dengan akar tradisi seni kesundaan yang  kuat, dia berusaha mengepakkan sayapnya sejauh dan sebebas mungkin tanpa pernah lupa darimana dia berasal…

Siang itu saya membuat janji untuk bertemu dengan seorang musisi yang sosoknya cukup dikenal di kampus seni musik UPI Bandung. Dia adalah Elang Rahayu, seorang pemain instrumen tiup dengan koleksi alat tiup yang cukup beragam dan juga tergabung dengan grup musik Kyai Fatahillah serta grup Baraya.  Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus seni musik, terasa suasana sangat “nyeni” dengan berbagai lukisan di tembok, dekorasi-dekorasi yang nyleneh, poster-poster unik dan keganjilan yang ditampilkan ala seniman. Saya sempat kebingungan mencari sosok Elang karena dia tidak menyebutkan dimana posisinya secara mendetil, tapi begitu mendengar bunyi Tarumpet menyeruak dengan instingtif saya mengikuti sumber bunyi tersebut dan memang benar yang memainkan alat musik tersebut tidak lain adalah Elang Rahayu.

The Tradition

Sosoknya menggambarkan karakter orang sunda pada umumnya, begitu hangat, ramah, dan gemar bersenda gurau. Ia lantas mengajak saya ke tempat kost-nya di daerah Ledeng agar percakapan bisa berlangsung lebih tenang dan nyaman. Pribadinya yang bersahaja ternyata semakin membuat obrolan saya dengannya begitu cair dan santai. Pria kelahiran 13 Maret 1982 ini memang memiliki latar belakang keluarga di dunia tradisi kesenian sunda yang begitu mengakar. Kakek buyutnya adalah pemain Tarumpet, neneknya adalah seorang sinden, sedangkan ayahnya adalah seorang guru kesenian sunda. Darah itulah yang menggiringnya tumbuh menjadi musisi tradisional hingga sekarang. Awal mula ketertarikannya dengan alat musik tiup adalah ketika ia mempelajari recorder di kelas 4 SD karena alatnya sederhana, harganya terjangkau dan mudah didapat. Lantas di kelas 5 SD perkenalannya dengan gitar, angklung dan terutama suling membuat dirinya semakin penasaran mengapa dengan alat musik tersebut dia bisa megungkapkan perasaannya tanpa harus berbicara kepada orang cukup memainkannya saja.

Lingkungan keluarga Elang sangat mendukung apapun kegiatan kesenian yang dilakukan anak-anaknya. Bahkan tempat kediaman keluarga Elang sendiri menjadi semacam lingkung seni yang dikelola ayahnya dan fokus terhadap permainan degung. Sedangkan sang kakek, Ating Sudarman merupakan sesepuh perguruan pencak silat dimana setiap sore sehabis sholat ashar rutin mengadakan latihan pencak silat dengan diiringi musik yang khas; dua buah kendang, suling kawih dan tarompet.Rutinitas- rutinitas seperti itulah yang secara sengaja ataupun tidak sengaja membentuk kepribadian Elang untuk mencintai kesenian Sunda.

“Rutinitas membentuk kepribadian Elang mencintai kesenian Sunda”

Ayahnya kembali mendukung dan mengarahkan Elang ketika dirinya meneruskan pendidikan ke SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) di daerah Margacinta, Bandung. Berbagai alat musik tradisional dia pelajari dari yang sederhana sampai yang rumit. Di sekolah itulah kecintaannya terhadap musik sunda semakin menancap dan tak tergoyahkan lagi karena memang di SMKI – sekarang menjadi SMKN 10-  merupakan pusat pendidikan kesenian sunda yang culup terkenal di Bandung.

Semua ilmu yang mengendap di dalam diri Elang kemudian dibawanya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 2001 jurusan Seni musik di Universitas Pendidikan Indonesia adalah yang menjadi tujuannya. Dia membawa semua bekal berupa potensi yang siap digali dan patern-patern dasar gaya bermusik yang sudah ada sebelum mengembangkan dan mendapat teknik-teknik baru atau pemikiran-pemikiran baru. Ketika awal masuk di kampus itu, Elang bercerita bahwa pemikirannya tertutup terhadap sesuatu yang baru. Dia bersikap fanatik sekali terhadap kesenian sunda dan bersikap sinis terhadap kesenian modern (barat). Baginya untuk apa mempelajari kesenian yang bukan milik bangsa sendiri, lebih baik kembangkan yang dekat dengan kebudayaan bangsa ini.

The Exploration

Pada pertengahan tahun 2002 yaitu ketika memasuki semester ketiga perkuliahan, pikirannya mulai terbuka. Hal ini dikarenakan bertemunya Elang dengan orang-orang yang merubah fanatismenya terhadap salah satu musik saja. Orang tersebut tak lain gurunya sendiri, Iwan Gunawan yang dikenal sebagai komposer dan pemimpin grup ensembel Kyai Fatahillah serta teman-teman dari angkatan yang lebih dahulu masuk. Iwan gunawan mengatakan kepada Elang bahwa untuk menjadi musisi yang baik, pikiran haruslah terbuka. Jika ingin menjadi seorang ahli maka seorang musisi harus dikelilingi dengan berbagai macam keilmuan. Iwan terus mengimbuhkan pandangannya bahwa musik juga harus bisa diapresiasi dan untuk mengapresiasi musik maka seorang musisi harus mendengar semua jenis musik tanpa terkecuali. Dengan begitu wawasan seorang musisi akan bertambah dan pada akhirnya akan tahu bagaimana menghargai sebuah musik. Dari pandangan itulah pikiran Elang mulai terbuka. Ia lalu mulai mempelajari alat musik tiup seperti flute, oboe, saksofon, klarinet dan berbagai alat musik barat lainnya. Setelah mendalami alat-alat musik tersebut ternyata banyak sekali teknik yang Elang pelajari dan berguna untuk dimainkan kedalam karya (musik) baru. Eksplorasi pun tidak berhenti di situ saja, Elang banyak menemukan bagaimana ternyata banyak kesamaan teknik antara instrumen barat dan instrumen timur. Teknik Legatto atau stacatto yang terdapat pada klarinet ternyata terdapat juga pada suling sunda. Terkadang juga Elang mengeksplorasi dengan memasukkan teknik instrumen barat kedalam suling sunda atau sebaliknya memasukkan teknik suling sunda ke dalam instrumen tiup barat. Satu hal perbedaan diantara keduanya adalah tidak ada long note dalam alat tiup tradisional sunda, nada-nada sunda selalu meliuk-liuk.

“untuk menjadi musisi yang baik, pikiran haruslah terbuka”

Pelajaran pertama mengenai improvisasi didapatnya juga dari Iwan Gunawan. Kala itu dirinya disuruh bermain suling mengiringi drama tari. Awalnya Elang kesulitan untuk membaca gerak sang penari, tetapi lambat laun rasa improvisasi itu tumbuh sendiri dengan belajar memaknai tiap gerakan dengan nada yang keluar. “ Kuncinya adalah bermain dengan penuh kesadaran. Jangan pula hanya menggunakan otak, tapi seimbangkan dengan menggunakan perasaan”, tukas pria yang pernah menjabat sebagai ketua ensembel Kyai Fatahillah tahun 2007-2008.   Ensemble Kyai Fatahillah adalah kelompok musik yang konsisten dalam upaya mengembangkan konsep musik-musik baru yang berakar dari musik tradisi sunda. Kelompok musik ini telah berhasil memainkan berbagai karya dari beberapa komponis, mulai dari karya tradisi sunda sampai kontemporer. Para pemain yang terjaring pada kelompok ini adalah para musisi muda yang berbakat dan memiliki visi ke depan dalam upaya memperluas wacana musik di Indonesia.Berbagai jenis musik yang sering dimainkan oleh kelompok ini adalah musik gamelan tradisi sunda, gamelan kontemporer, musik perkusi dan musik electro acoustic. Melalui Ensemble kyai Fatahillah jugalah pengalaman dan naluri bermusik seorang Elang Rahayu terlatih. Festival-festival akbar pernah didatanginya bersama grup Kyai Fatahillah seperti “Space and Shadow” Berlin Jerman HKW 2005, “Solo International Ethnic Music” 2008, “Sound of Earth”- Konser Musik Jazz di Sabuga Bandung 2007, dan yang terakhir dan masih hangat adalah festival Cracking Bamboo 2010 di Vietnam.

Jika membeberkan pengalamannya dalam festival Cracking Bamboo banyak sekali pencerahan yang membuka cakrawala bermusik seorang Elang Rahayu. Workshop Cracking Bamboo di Hanoi, Vietnam memberikan kesan yang tak terlupakan atas kerjasama dengan puluhan seniman dan musisi dari seluruh penjuru dunia. Mereka digabungkan lalu dibentuk kelompok baru dan diberi kesempatan untuk membuat komposisi karya berdasarkan sebuah asas keterbukaan, dialog yang saling mengerti dan sekali lagi diwujudkan dalam ranah World Jazz. Komposisinya sarat akan improvisasi tetapi tidak saling mengalahkan melainkan membangun kesepahaman dalam ritme, harmoni maupun melodi. “Improvisasi bukan unjuk gigi, tetapi bagaimana kita mengkreasikan dan mengkomposisikan kembali sebuah karya. Disana ada kesepakatan secara spontanitas, saling mengerti dan bukan saling mengalahkan”, tutur Elang yang juga gemar bermain tenis meja.

“Improvisasi bukan unjuk gigi, tetapi bagaimana kita mengkreasikan dan mengkomposisikan kembali sebuah karya”

Satu lagi yang patut diacungi jempol adalah karyanya bersama grup band Baraya yang telah merilis satu buah album berjudul The Day. Di grup ini Elang mengisi permainan suling, toleat dan bangsing. Kesembilan karya dalam album The Day ini adalah hasil perkawinan musik analog dan digital. Secara analog musik tradisional sunda dihadirkan dengan begitu fasih dan sakral kemudian musik digital disuguhkan melalui ritme-ritme modern hasil racikan sampling digital dan sistem komputerisasi. Perkawinan keduanya tidak berlebihan, detil-detil melodi dan harmoni dipikirkan dengan seksama sehingga tercipta kadar yang tepat di tiap bagian komposisinya. Nuansa ethniclounge kental sekali terasa dalam balutan wilayah World Jazz.

Sebagai seorang lulusan pendidikan musik dan calon guru, Elang masih merasa optimis dengan minat para generasi muda terhadap kesenian tradisional sunda. Baginya dengan masih berdirinya SMKI, STSI atau sekolah musik lainnya potensi-potensi baru di seni sunda pasti akan tetap bermunculan walaupun jumlahnya memang tidak banyak. Menurutnya kesenian tradisional tidak akan ditinggalkan, akan selalu ada orang yang mengembangkan dan melestarikannya. Yang perlu semua orang ketahui adalah dengan alat musik (tradisional) yang sederhana itu bisa digali berbagai macam ragam bunyi. Kuncinya jangan pernah berhenti mengeksplorasi.
Biodata :

Nama                                          : Elang Rahayu, S.Pd

Tempat/Tgl Lahir                    : 13 Maret 1982

Alamat                                       : Jl. Sersan Bajuri Dalam No. 07 RT/RW 04/04 Kel. Isola                                                        Bandung

Riwayat Pendidikan Formal   : SDN Malabar I lulus tahun1994

SLTPN 2 Pangalengan  lulus tahun 1997

SMKN 10 / SMKI Bandung lulus tahun 2000

Seni Musik UPI lulus tahun  2009

Koleksi Alat Tiup Elang Rahayu:

Ken (dengan corong kuningan di ujungnya), Saw(warna coklat terbuat dari Bambu), dan Tiw( 4 suling berwarna-warni) adalah alat tiup tradisional yang berasal dari Vietnam. Ken mempunyai karakter suara seperti tarompet sunda, Saw dengan karakter suara yang nge-bass, dan tiw dengan karakter suara yang lembut dan nyaring.

Toleat merupakan salah satu jenis musik tiup (Aerophone) khas daerah Subang, toleat biasa di mainkan oleh penggembala di daerah pantura sambil menunggu gembalaannya. Awalnya toleat dibuat dari bahan jerami karena perkembangan jaman dan keawetan bahannya maka sekarang toleat di buat menggunakan bahan bambu tamiang, toleat mempunyai nada dasar salendro dan mempunyai delapan lubang nada serta mempunyai suara yang unik menyerupai saxsophone, bentuknya mirip dengan suling (seruling).

Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong. Saluang distel dengan diberi beberapa lubang biasanya ada 4 lubang. Dengan begitu saluang dapat menghasilkan frekuensi nada-nada diatonis. Ini juga salah satu ciri khas instrumen ini. Tidak sembarangan orang yang bisa meniup Saluang ini, membutuhkan latihan khusus agar bisa mengeluarkan suara khas Saluang, yang bernuansa kelam, misterius dan ghotic.

bangsing/suling miring dilengkapi oleh alat musik lainnya seperti gong kendi, kecrek sendok, gendang terbuat dari tong sabun diberi karet untuk mengiringi lagu khas Cirebonan. Tarling Klasik adalah kesenian khas daerah Cirebon yang lahir diperkirakan tahun 1934 dan hingga saat ini masih populer digemari baik oleh masyarakat regional maupun nasional.

Suling degung dengan empat lubang dan lima lubang. Sejarahnya degung lahir dari lingkungan pendopo Kabupaten Cianjur pada sekitar abad XIX. Pada awalnya kesenian ini hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu saja hanya jika ada perayaan di pendopo saja. Atas jasa Bupati Kabupaten Bandung, RAA Wiranata Kusumah pada tahun 1921 kesenian Sunda banyak yang direkam dalam piringan hitam ODEON (termasuk Degung). Seni degung pada mulanya hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja, bentuk sajiannya hanya instrumentalia saja, tanpa dibarengi sekar.

Tarompet penca

Pencak Silat adalah olah raga seni beladiri, yang merupakan ciri khas kebudayaan etnis sunda. permainan seni pencak silat ini biasanya diperagakan dengan diiringi musik gendang, terompet, dan lain sebagainya. Suara tapompet ini begit nyaring dan bernuansa magis
Tarompet subang

Tarompet subang dimainkan di dalam gembyung. Gembyung adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Gembyung merupakan jenis kesenian tradisional khas daerah Subang yang sampai sekarang masih terus dimainkan. Gembyung biasa dimainkan untuk hiburan rakyat seperti pesta khitanan dan perkawinan atau acara hiburan lainnya dan juga digunakan untuk upacara adat seperti halnya Ruatan bumi, minta hujan dan mapag dewi sri. Dalam perkembangannya saat ini, gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jazz Break, dari masa ke masa

kalian para penggemar Jazz tentu tidak asing dengan nama Jazz Break. Begitu juga mungkin dengan paman atau ayah kalian di masa mudanya sangat akrab dengan acara ini. Hingga adik kalian saat ini pun mungkin pernah datang dan menyaksikan musisi-musisi baru yang bermunculan. Ya! Jazz Break memang mempunyai sejarah cukup panjang yang melintasi beberapa generasi serta sangat berpengaruh bagi perkembangan jazz tanah air. Banyak musisi-musisi piawai lahir dan tumbuh bersama Jazz Break….

Oleh: Umbara Purwacaraka

The Beginning: 1983-1989

Berawal dari sekelompok remaja yang tergabung dalam komunitas penggemar jazz yang rutin berkumpul di Bumi Sangkuriang yaitu Hari Pochang, Husni Alketeri serta didukung oleh pengurus Bumi Sangkuriang waktu itu, Dang Tanzil dan beberapa aktivis lainnya seperti Yongky Nusantara (Crescendo), Freddy Prandi, dan Sudibyo – seorang dosen arsitektur yang juga banyak meneliti mengenai perkembangan Jazz di Indonesia. Atas kerjasama mereka semua lah tercipta Jazz Break di tahun 1983 yang namanya terinspirasi karena pada waktu sedang ramai-ramainya orang menggunakan radio breaker (orari) dan secara fonetik pun kata Jazz Break enak untuk diucapkan. Kala itu Jazz Break rutin diadakan pada hari minggu malam dan bisa dibilang Jazz Break merupakan acara musik jazz pertama di kota Bandung. Hampir semua musisi jazz di tanah air pernah bermain di acara ini. “ Kalau musisi Jazz belum main disini rasanya kurang afdol”, begitulah tutur salah satu penggagas Jazz Break, Hari Pochang.

Tim pengelola dalam Jazz Break sendiri bersifat informal, tidak terorganisir. “Semuanya dilakukan dengan semangat bersama. Kami seperti bergerilya, mengalir begitu saja”, jelas Hari Pochang. Tetapi dengan semangat itulah tumbuh musisi-musisi masa depan Indonesia, sebut saja grup musik Krakatau yang memang terbentuk dari komunitas ini, lalu Elfa Secioria yang rutin tampil, Tri Utami, Yuke Semeru, Purwacaraka, Indra Lesmana, Karimata, Kahitna serta Baron yang mengusung repertoar progesif ala Ruturn To Forever. Tak ketinggalan pula musisi-musisi senior yang  rajin bersilaturahmi seperti Bubi Chen, Embong Rahardjo, Crescendo, dan Maryono. Pengelola Jazz Break juga sempat mengundang penyanyi Jazz asal Amerika Serikat, Debra Brown.  Upaya mendatangkan Debra Brown itu  merupakan gagasan dari pembetot bass, Pra Budidharma dan Harry Roesli yang juga membantu dalam pengumpulan dana untuk penyelenggaraannya. Saat itu Debra Brown diiringi di antaranya oleh pianis masa depan kota Bandung pada saat itu; Bambang Nugroho.

“ Kalau musisi Jazz belum main disini rasanya kurang afdol”

Berkat Jazz Break pula, di pertengahan dekade 80’an suasana kota Bandung hidup dengan berbagai event-event Jazz. Salah satunya acara yang muncul adalah Jazz Spot yang mengambil tempat di Hotel Savoy Homann. Ketika itu Bambang Nugroho mengajak musisi-musisi yang berasal dari komunitas Bumi Sangkuriang serta memboyong penyanyi seperti Tula Samdjoen yang terkenal dengan teknik scatting-nya yang ciamik.  Tula Samdjoen juga merupakan penyanyi yang telah malang melintang bersama musisi jazz senior seperti Johny Tangkau, Benny Korda dkk, Oele Pattiselano, Freddy Prandi, Eddy Karamoy serta Adang Bendo. Kampus ITB pun di tahun-tahun itu bisa dibilang rutin mengadakan acara-acara Jazz. Begitu pula komunitas di Jl. Aceh yang dipelopori oleh Elfa Secioria, Andre Hehanusa, Ruth Sahanaya, dan Trie Utami merupakan musisi-musisi yang menghidupkan suasana jazz di kota Bandung.

Di akhir tahun 1989 Jazz Break mengalami masa-masa surut. Saat itu kesibukan  para pengelolanya membuat Jazz Break menjadi vakum.  Hari Pochang sebagai salah satu pengelola saat itu dihampiri dengan kesibukan kerja yang menggila sehingga tak sanggup lagi menangani acara tersebut. Struktur para pengelolanya yang memang tidak terorganisir serta cara kerja  yang lebih mengarah ke personal approach dan bergerilya, membuat jaringan dan hubungan dengan para musisinya pun terputus bersamaan hilangnya para pengurus Jazz Break. “Pentolan-pentolan Jazz Break akhirnya membuat acara sendiri di Laga Pub dengan memunculkan berbagai macam jenis musik”, tutur Hari Pochang mengenai keadaan paska surutnya Jazz Break. Lalu sempat muncul sebuah acara lagi di Bumi Sangkuriang dengan mengusung nama Jazz Break yang digagas oleh Erlan Efendi dan Wachdach. Sempat terjadi kesimpangsiuran karena konsep acaranya lebih berssifat family gathering dengan memainkan musik-musik disco untuk berdansa, bukan format band beraliran jazz. Acara itu pun tidak berlangsung lama.

Jazz Break revival: 2008-2010
Inilah periode awal kembalinya Jazz Break. Dengan mempertimbangkan kata Jazz Break“ yang sempat digunakan juga di event-event jazz lain di luar Bumi Sangkuriang oleh event organizer lain, maka “Jazz Break“ tahun 2008  dinamai menjadi  “Jazz Break Revival“ sekaligus mempertegas kebangkitan kembali Jazz Break yang identik bertempat di Bumi Sangkuriang. Pertemuan Perdana Jazz Break Revival tercatat pada hari Rabu 9 April 2008. Menampilkan 3 (tiga) kelompok jazz dari generasi terkini; Bop Vivant, Sekapur Sirih, dan Yonathan Godjali Quartet. Penggagasnya kali ini adalah Dwi Cahya Yuniman bersama Klab Jazz-nya. Klab Jazz melakukan kerjasama dengan pihak manajemen Bumi Sangkuriang sehingga Jazz Break Revival itulah yang mereka kelola. Ada beberapa gagasan yang cukup substansial dari keberadaan Klab Jazz bersama Jazz Break Revival. Misi yang diusung adalah memasyarakatkan musik jazz terutama masyarakat di kota Bandung serta mendorong terciptanya kelompok-kelompok musik Jazz baru sebagai regenerasi musisi jazz sebelumnya.

Konsep yang ditawarkan Jazz Break Revival sendiri bisa dibilang sangat segar. Tradisi di dalam Jazz Break Revival mengajarkan bahwa semua musisi baik yang telah senior atapun yang baru muncul dipersilahkan untuk bermain bersama, menciptakan dialog dengan kesetaraan, keterbukaan dan tanpa “kasta”. Baik musisi senior maupun junior akan sama-sama mendapat pengalaman yang baru serta pelajaran-pelajaran yang baru.  Banyak musisi-musisi jazz yang segar lahir dalam tradisi ini dan sekarang mulai menunjukkan taringnya antara lain Sony Akbar Quartet, G/E/T, Buy Free Get 4 serta gitaris masa depan Bandung, Tesla Manaf Effendi.

Sangat disayangkan karena ada suatu masalah di dalam hal kerjasama, Jazz Break Revival akhirnya menutup buku dan tidak melanjutkan pertemuannya  lagi pada bulan April 2010. berakhirlah masa-masa Jazz Break Revival.

The Comeback: 2010 – now

Tanggal 2 juni 2010 menjadi saksi reinkarnasi yang ketiga dari acara Jazz Break. Kali ini Bumi Sangkuriang Jazz Community bersama dengan Hotspot Art mengelola dengan mengembalikan nama acara menjadi seperti awal terbentuk yaitu Jazz Break. Sang ketua pelaksana, Teddy Abe berkata, “Nama Jazz Break kami angkat lagi untuk merasakan kembali nostalgia yang pernah singgah, dimana orang merasa nyaman dan enjoy untuk datang ke acara ini”. Konsep yang tersaji pada gelaran “pertama” Jazz Break sedikit berbeda. Line Up artis yang tampil tidak semua beraliran jazz yang murni, tetapi masih ada yang mengusung pop berbalut jazzy. “konsepnya saya bikin hiburan sekaligus apresiasi. Makanya line up saya bikin entertaining, tidak semuanya bermain jazz yang berat”, ucap Teddy Abe yang juga merupakan pemain bass.

Teddy Abe berharap, talent-talent di kota Bandung tidak kehilangan tempat dan peminat musik jazz pula tidak akan surut dan padam. Dia juga berharap di episode berikutnya dari Jazz Break bisa mengundang musisi-musisi yang telah malang melintang di dunia Jazz. “ Mudah-mudahan ada pihak yang mau menyeponsori, sehingga acara ini bisa menjadi besar bahkan berskala Internasional.”, imbuhnya.

Jika kita rangkum perjalanan Jazz Break dari awal hingga saat ini, tak bisa dipungkiri lagi keberadaan komunitas penggiat Jazz ini seakan memberikan efek domino bagi perkembangan Jazz di tanah air. Tunas-tunas segar selalu muncul dari kota Bandung seakan kreativitas dan semangat untuk bermusik anak-anak muda di kota ini tidak pernah padam. Semangat-semangat itu mereka wujudkan dengan memunculkan komunitas-komunitas dengan segala bentuk gagasan dan kemasan yang berbeda-beda. Sangat layak untuk kita akui bersama bahwa Bandung memang pantas dijadikan barometer segala jenis musik di tanah air ini.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | Leave a comment