Nick Mamahit…. Denting Piano Tak Terlupakan

Jika ditelisik sejarah perkembangan Jazz di Indonesia tak banyak kita temui literatur, dokumen, atau foto-foto mengenai Nick Mamahit padahal bisa dibilang dia merupakan pianis Jazz terbaik di Indonesia pada tahun 1950-an dan tokoh penting pergerakan Jazz tanah air paska kemerdekaan. Banyak musisi yang secara tidak langsung merasakan pengaruh dari karya-karyanya yang bersahaja.  Bagaimana sebenarnya kiprah seorang pianis yang karirnya tercatat lebih panjang dari sejarah kemerderkaan Indonesia ini…

Oleh: Umbara Purwacaraka

Foto: Dari berbagai Sumber

The Beginning

Nicholas Maximiliaan Mamahit adalah nama lengkap pria yang lahir di Jakarta 30 Maret 1923 dari pasangan Lodwidjk Maurits yang indo-belanda dan ibunya Louisa Johanan van Opdurp, wanita berdarah Manado yang masih memiliki garis keturunan Belgia-Belanda.

Bakatnya dalam bermusik merupakan turunan dari sang ayah yang piawai bermain flute. Tradisi di keluarga yang akrab dengan musik Jazz membuat Nick Mamahit kecil tergoda ketika mendengar ayahnya bermain piano. Secara alamiah, ketika umurnya menginjak 9 tahun Nick berusaha menggali kebiasaan-kebiasaannya mendengar sang ayah bermain musik untuk diterapkan sendiri pada alat musik yang membuatnya jatuh hati (piano). Kala itu dia belum bisa membaca notasi dan kakinya pun belum bisa menyentuh pedal piano, namun secara intuitif dan berdasarkan insting musikal maka terus berkembanglah bakat musik seorang Nick Mamahit . Keseriusan juga ditunjukkan Nick Mamahit pada saat sang ayah memintanya memainkan piano dihadapan Vootbal Verniging Minahasa(VVM) – sebuah perkumpulan sepakbola – dimana kala itu sang ayah bertugas menjadi bendahara. Nick pernah masuk sekolah teknik perlistrikan, namun sepertinya ia memang lebih tertarik memainkan piano, sehingga gurunya menyarankan agar ia memilih sekolah musik saja.

‘yang terpenting adalah mempelajari tone karena tanpa harus melihat pun orang akan mengetahui siapa yang memainkan musik.’

Ketika beranjak dewasa sekitar tahun 1944, Nick menikahi seorang perempuan bernama Louise Henriette. Setelah itu pada tahun 1948 berangkatlah Nick Mamahit ke Amsterdam untuk mengecap pendidikan formal di Amsterdam Music Conservatory dan berhasil mendapatkan Staatssexamens voor Muziek, semacam ijasah Negara bidang Musik. Proses kreatif seorang Nick dalam mempelajari piano ternyata benar-benar didapatkannya dengan tidak mudah. Ketika di Amsterdam Music Conservatory dia banyak menghabiskan waktu memencet-mencet tuts piano hingga mendapatkan tone yang tepat untuk ciri bermusiknya. Baginya musisi yang baik harus menguasai benar instrumen yang dimainkannya dan yang terpenting dari semua itu adalah mempelajari tone karena dengan tone tanpa harus melihat pun orang akan mengetahui siapa yang memainkan musik. Musik klasik adalah sesuatu yang didalaminya ketika menempa pendidikan di negeri tulip itu. Kedisiplinan, ketekunan dan ketelitian dalam mempelajari musik klasik sudah menjadi tradisi yang mengakar bagi diri Nick Mamahit yang di kemudian hari akan membentuk ciri dan pendekatan yang khas bagi dirinya dalam membuat komposisi (karya) musik.

Rebirth

Tahun 1950 adalah awal “kelahirannya kembali” setelah menempa ilmu musik secara mendalam di negeri kincir angin. Sesaat setalah menginjak tanah air, Nick Mamahit mendirikan sebuah trio jazz yang bernama The Progressive bersama Dick Abel(gitar) dan Van Der Capellen(bass). Nama The Progressive sendiri diambil dari aliran jazz yang sedang hangat dan kerap dimainkan banyak musisi pada saat itu. Lagu-lagu yang terekam antara lain Rindu, Tanam Djagung, dan Tjemas lewat label Irama, perusahaan rekaman milik mas Yos, namun sayang rekaman ini kurang mendapat tanggapan pasar karena dianggap melintas batas peradaban dan terlalu maju untuk jamannya. Saat itu musik Indonesia banyak dipengaruhi musik ballroom dengan penekanan pada musik Latin seperti cha cha, tango,rhumba dan sejenisnya.Sementara The Progressive mulai menafsirkan musik pop atau tradisional dalam gaya jazz dan mulai menggunakan akord-akord yang progresif serta aransemen yang tidak sederhana lagi. Akhirnya trio ini bubar.

Nick lantas tak tinggal diam, tak lama berselang dia mengajak Jim Espehana (bass) dan Bart Risakotta (drum) membentuk sebuah trio bernama “Irama Spesial”. Seakan tidak mau mengulang kesalahan Rekaman yang mereka buat lebih bersahaja dan bisa diterima oleh kuping orang awam. Albumnya pun laris di pasaran. Keadaan itu membuatnya semakin bergairah. Pada tahun 1953, Nick kembali membentuk trio. Kali ini dia mengajak Sam Saimun dan Bing Slamet. Trio ini berhasil membuat beberapa rekaman, salah satunya adalah Sarinande yang dirilis pada tahun 1956. Trio ini banyak mengaransemen lagu-lagu tradisional (rakyat) ke dalam bentuk pola aransemen berbau western dengan dasar permainan piano Nick Mamahit dan sedikit improvisasi Jazz. Hal kompromis seperti ini mereka lakukan untuk dapat merebut penggemar tanpa harus meninggalkan sisi idealisme, karena memang Nick Mamahit mempunyai misi untuk melestarikan lagu-lagu rakyat yang menjadi identitas bangsa Indonesia.  Lagu-lagu pada album ini antara lain Ayo Mama, sarinande, Inang Sarge-Leleng Ma Hupaina, Gunung Salahutu, Rajuan Pulau Kelapa, Tari Pajung-Kaparinjo, O Ina Ni Keke, termasuk Dibawah Sinar Bulan Purnama karya Maladi.

‘Nick Mamahit mempunyai misi untuk melestarikan lagu-lagu rakyat yang menjadi identitas bangsa Indonesia’

Misinya terus berlanjut untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali lagu-lagu rakyat dalam aransemen yang kuat akan unsur World Jazz. Kepiawaian meramu musik rakyat itulah yang menjadi ciri khas Nick Mamahit. Album yang dirilis tahun 1961 ini berjudul Rindu dengan memboyong musisi-musisi seperti M. Setijoso (gitar), Vic Tobing (bass) dan Bart Risakotta (drums). Permainan pianonya yang kaya nuansa dan kaya interpretasi membuat setiap lagu yang disimak penikmatnya menjadi sesuatu yang baru tanpa menghilangkan tekstur dan struktur notasi orisinalnya. Improvisasi yang dibalut Nick Mamahit terasa tidak berlebihan dan sangat bersahaja. Nick seolah ingin kontekstual dalam penafsiran musiknya. Sebuah lagu rakyat Maluku berjudul Kole-Kole, diartikulasikannya dengan nuansa pantai yang syahdu dan menjelma dalam pola ritme gaya polonaise. Dengan fasih Nick juga berusaha merasuki alam Pasundan lewat lagu “Dengkleung” yang kental rasa minornya dan ditaburi dengan  aransemen yang agak off-beat. Lalu nuansa musik meloncat ke Sumatera Barat lewat lagu “Urang Talu” yang dibaluri Latin Beat oleh Nick Mamahit. Satu lagi yang patut disimak ketika Nick menterjemahkan “Gambang Suling” karya Ki Narto Sabda dengan artikulasi permainan piano yang kental akan dialek Jawa. Walau tak terdengar sedikitpun bebunyian gamelan setiap orang akan merasakan hawa yang tentram dan tenang di bumi Jawa nan asri.

Di tahun 1975 muncul sebuah album bertajuk “Padamu” yang merupakan album tribute untuk Bing Slamet. Kedekatannya secara personal dengan Bing Slamet menggugah batin Nick untuk merilis album instrumental setelah hampir 14 tahun rehat tidak membuat karya. Hampir keseluruhan album ini merupakan karya hits Bing Slamet yang diaransemen ulang ke dalam warna Jazz oleh Nick Mamahit menjadikan lagu-lagu hits Bing terdengar berbeda dan bahkan unik. Lagu “Padamu” dipilih menjadi judul album selain pas dengan konsep tribute yang diartikan sebagai persembahan Nick ‘padamu’ Bing, juga merupakan lagu Bing yang menjadi favorit Nick secara personal.

Music From The Jakarta Mandarin Hotel di tahun 1982 tercatat sebagai album terakhir yang pernah direkam oleh Nick Mamahit. Kala itu di bermain rutin di Hotel Mandarin. Manager Hotel Mandarin waktu itu, John M. Daniels lah yang memberikan ide sehingga tercipta album yang berisi 15 lagu dengan musisi-musisi pendukung Wiharto (tenor Sax, Flute) , Dicky Prawoto (bass), dan Karim (drums). Sabda Alam yang dimainkan solo oleh oom Nick membuka album ini, memberikan ciri latar belakang musik klasik yang sempat didalaminya di Belanda, yang kemudian diteruskan dengan variasi diiringi oleh bass dan drums. Sentuhan funk dan flute Wiharto menjadi jembatan komposisi dalam lagu Gubahanku karya Gatot Sunyoto. Yang paling menarik mungkin Bengawan Solo menjadi satu keunggulan di album ini. Ketika swing dipadukan dengan karawitan dan sedikit sentuhan ala J.S Bach sebagai cara memainkan komposisi ini, mungkin siapapun akan berpikir bahwa ini sangat berlebihan, tetapi dengan cerdiknya Nick berhasil lolos dari perangkap yang menghadang.

The Other Side

Jika menelusuri sejarah perkembangan Jazz di Indonesia, seorang pengamat musik, Denny Sakrie yang banyak mengangkat kisah Nick Mamahit sempat membagikan beberapa pernyataan yang pernah diungkapkan Nick Mamahit . Menurut Nick di Indonesia banyak sekali pemusik yang berbakat, tetapi sayangnya bakat-bakat itu tidak  ditunjang secara akademis padahal musik itu harus dipelajari secara mendalam tidak hanya mengandalkan insting maupun bakat saja. Dan secara kritis Nick pernah mengatakan bahwa musik yang bagus, selain harus dimainkan, juga wajib ditulis. Nick juga menyayangkan regenerasi musisi jazz di Indonesia kurang signifikan. Jumlah pemusik jazz tak pernah meningkat dalam kuantitas.

Lelaki berdarah Manado ini juga pernah berkata, “Kalau kita ambil buku musik klasik, di lembar pertama kita akan lihat nama para komposer. Kalau buku jazz terbalik. Di lembar pertama adalah judul lagu, di lembar berikutnya (baru) nama-nama para musisi yang memainkan lagu tersebut.” Itulah kiranya yang membuat musik jazz menjadi kurang membumi, apalagi di Indonesia. “Kita mesti belajar itu semua. Itu yang sebetulnya harus dilakukan oleh beberapa musisi kita. Tidak usah lewat festival, lewat rekaman sudah cukup. Dengan begitu kita bisa membandingkan kemampuan orang, dan dia sendiri juga bisa berkembang,” lanjut Nick seperti yang dikutip dari suratkabar Kompas edisi 26 September 2000.

Jika menilai musik yang dikreasikan Nick Mamahit, Denny Sakrie sebagai seorang pengamat musik yang berpengalaman mengutarakan, “Ciri Nick Mamahit adalah lebih banyak memainkan piano lounge dengan pendekatan jazz. Ini terlihat dari berbagai rekamannya yang cenderung memainkan lagu jazz standar ,pop standar maupun lagu lagu tradisional yg kemudian diarransemen dalam bentuk yang cenderung ke jazz. “Nick Mamahit bermain jazz dengan berbagai pendekatan. Dia bisa menjelajah Be-bop,swing, Hard Bop juga Dixieland. Pengaruh musik jazz era Perang Dunia II memang merupakan repertoar yg membentuk jatidiri musiknya”, lanjut Denny Sakrie.

Di tahun 1988 istri tercintanya Louise Henriette Van Beugent - meninggal dunia. Dari istrinya lah lahir empat orang anak dan salah satunya meneruskan jejak Nick sebagai Musisi bahkan hingga sampai ke Australia, dan tercatat sebagai penyanyi sekaligus gitaris folk pertama di Indonesia sebelum jenis musik ini mewabah pada kurun 1970-an .

Aksi Nick masih bertahan meramaikan dunia permusikan Indonesia sampai akhir dekade 1990-an. Tercatat, selama 15 tahun Nick masih bermain secara reguler di Hotel Mandarin, Jakarta, hingga pada sekitar tahun 1996 Nick mengendurkan aktivitasnya karena mulai terserang stroke. Meski sudah sangat jarang tampil, Nick masih tetap aktif melatih jari-jarinya supaya tak terus kaku akibat stroke yang menyerangnya itu. Pria yang terkenal dengan kepribadian yang perfeksionis ini gemar mengoleksi buku tentang musik, entah buku-buku musik klasik ataupun jazz. Bahkan banyak bukunya yang tua yang berbahasa Belanda. Sayang, sebagian bukunya habis dimakan rayap, hancur karena udara lembab, dan tak terurus ketika ia terserang stroke.

Tercatat pada tanggal 25 januari 2003 merupakan penampilannya yang terakhir dalam acara Bimasena Jazz Evening yang bekerja sama dengan Jakarta Jazz Society (JJS) di Hotel Darmawangsa. Satu hal yang mungkin takkan pernah terlupakan dari sosok Nick Mamahit, dia adalah salah satu pionir di Indonesia yang tetap konsisten di dunia jazz hingga akhir hayatnya.

DISKOGRAFI

Irama Spesial – The Progressive ( Irama ,1952)
Irama Quartet – The Progressive ( Irama ,1954)
Sarinande – Nick Mamahit ( Irama ,1956)
Rindu  - Nick Mamahit ( Irama ,1961)
Padamu – Nick Mamahit ( Irama ,1975)
Music From The Jakarta Mandarin Hotel – Nick Mamahit ( Atlantic Record,1982)

Nice Fact :

ternyata diluar musik jazz Nick juga memiliki intuisi dalam musik pop. Tahun 1973, komposisi karya Nick dibawakan oleh Broery Marantika berjudul Cinta Abadi ( Love Eternally ) dan berhasil memenangkan Festival Lagu Populer Indonesia yang pertama kalinya diadakan, dan mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival,Budokan Hall,Tokyo,Jepang.

About deadlylefty

I'm a man with a simple life in this complexity universe
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s